May 21, 2017

Let's Fall In Love (Again)

December 4, 2015. That day I went to Bandung for the last time before I move to Rotterdam. I didn't intentionally go there only to have a memorable, emotional farewell with my favourite city. Indeed, I went there to attend a workshop, which was extremely boring that I could not wait to leave until it is finished. So I called him whether he wants to accompany me going around the city for a few hours before I go back to Jakarta. Less than thirty minutes later he picked me up. I didn't exactly remember every conversations we had and every places we visited that day, but one thing I remember vividly from my visit is my happiness. The city brought back so many memories of those one thousand two hundred and seventy seven days when we spent our day together. It convinced me to write something that had been on my mind since a long time ago, that he is and has been one of my source of happiness. And so I wrote #ROH 13, while he gave me Let's Not Fall In Love, a song by Big Bang. The lyrics struck me so bad that I played the song over and over again until a few months later, when I finally accepted his thought of why we cannot be like we used to be.


May 7, 2017. Seventeen months later, we met again in the same city. Without no doubt, a lot of things had happened in our lives before the day. We tried our luck by contesting the 11.505 km distance between us. We tried new possibilities by opening up our heart to other people. But it seems like the universe has been on our side. Neither distance nor time can completely make us turn our back on each other. So we decided to try us once again. That day, I should have played one of my favourite songs by Frank Sinatra in his car and told him that it's time to change our songs to be, Let's Fall In Love. Even though I know that he doesn't necessarily listen to the song to believe that we can be like we used to be. 

May 10, 2017

Another Chapter of Nomadic Life

Padahal baru lima belas hari enggak blogging, tapi rasanya kaya udah lamaaa banget! Maklum deh, sebulan ini memang lebih padat dan hectic karena saya sedang persiapan pulang ke Indonesia untuk mengambil data riset saya dalam waktu beberapa bulan ke depan. Rasanya tuh seneng banget karena kali ini pulang enggak mendadak dan terburu - buru seperti saat bulan Oktober kemarin. Karena memang dari setahun yang lalu ketika merencanakan timeline PhD saya, saya sudah menetapkan akan pulang ke Indonesia sekitar bulan Mei atau Juni 2017 untuk mengambil data riset saya. Alhamdulillah, progress saya selama satu tahun ini lancar sehingga saya bisa pulang sesuai dengan waktu yang saya tetapkan.  Semenjak itu, semakin mendekati bulan Mei saya merasa semakin excited. Tapi hanya ketika saya udah membeli tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia sekitar satu setengah bulan yang lalu, perasaan saya semakin campur aduk. Antara senang, cemas, dan sedih.


Kalau senang sih enggak perlu dijelasin lagi juga udah jelas lah yaaa. Siapa sih yang enggak senang bisa ketemu keluarga, sahabat, dan kali ini bisa lebih banyak kesempatan untuk ketemu teman - teman lama? Apalagi kali ini saya bisa melewati puasa dan lebaran di Indonesia; salah satu hal yang saya paling dikangenin selama tinggal disini! Kalau cemas, hmmm, memang udah bagian yang enggak terelakkan setiap kali saya pindahan. Meskipun memang udah enam tahun belakangan ini hidup saya cenderung berpindah - pindah, mulai dari skala tempat tinggal, kota, hingga negara; tetap aja saya belum terbiasa. Pasti setiap akan pindahan selalu ada perasaan cemas yang menyelimuti. Sekarang sih lebih cemas karena ternyata banyaaak banget to do list yang mesti diselesaikan sebelum pulang. Mulai dari mencari pengganti tenant yang akan menempati kamar saya. Udah sebulan saya menunggu, beberapa kali ada yang tertarik, tapi akhirnya selalu enggak jadi. Sampai akhirnya tiga hari sebelum masuk bulan Mei, tiba - tiba ada yang kontak dan mau menyewa. Padahal saat itu saya udah pasrah untuk tetap tinggal di apartemen saya sampai sebelum pulang. Alhasil, dalam hanya waktu tiga hari saya langsung packing barang - barang yang mau ditinggal sementara waktu di Belanda, yang akan saya bawa selama dua minggu ketika menebeng di tempat teman saya, dan yang akan saya bawa pulang ke Indonesia. Di saat yang bersamaan saya juga masih ada deadline kerjaan untuk mengumpulkan abstrak untuk konferensi dan progress ke professor saya. Terlepas dari semua kondisi ini, saya memang pada dasarnya suka kelewat cemas kalau mau melakukan perjalanan jauh. Apalagi kali ini akan pergi dalam rentang waktu yang cukup lama dan ada 'beban' lebih dari sekedar mau jalan - jalan atau mengunjungi keluarga.


Meskipun udah kelewat senang dan excited untuk pulang, tetap aja ada perasaan sedih. Lebih karena "di saat saya udah merasa settle tinggal disini, kenapa harus pindah ke tempat lain lagi", dan juga karena beberapa teman yang udah membuat saya nyaman disini sebagian besar sudah pada lulus ketika nanti saya kembali kesini. Di sisi lain, karena studi kasus riset saya ada di Bandung dan Yogya, jadi kemungkinan besar saya akan menghabiskan waktu lebih lama di kedua kota tersebut. Sekalipun harusnya enggak akan terlalu sulit untuk beradaptasi lagi karena lingkungannya yang udah cukup familiar dan memang saya pun pada dasarnya menyukai kedua kota tersebut.

Kalau dipikir - pikir, hidup dan manusia itu memang selalu lucu yaa. Sebelum saya merasakan kehidupan nomadic ini, saya selalu merasa bahwa saya enggak akan bisa tinggal di satu tempat dalam waktu yang sangat lama karena pasti akan bosan.  Sekarang, giliran dikasih kesempatan hidup nomadic untuk beberapa tahun ini, seenggaknya sampai saya menyelesaikan program doktoral, baru deh berharap bisa punya tempat tinggal yang settle. Begitulah manusia ya, enggak pernah puas. Hee! Yang terpenting doain aja supaya semuanya lancar yaaa :)