June 26, 2017

#ROH 67 : Kampung

Di tengah - tengah tumpukkan rasa bahagia yang saya dapatkan semenjak pulang ke Indonesia satu setengah bulan yang lalu, ada satu hal yang udah lama saya rindukan, yaitu berkunjung ke kampung.  Mungkin karena dari kecil hingga sekarang saya selalu tinggal di kota besar dan enggak pernah merasakan 'mudik' atau punya 'kampung halaman', jadi main - main ke kampung itu rasanya selalu menyenangkan. Beruntung, dari jamannya duduk di bangku sekolah dasar hingga kerja, pasti selalu ada aja kegiatan yang membuat saya berkunjung ke berbagai kampung di Indonesia. Jadi bisa kebayang kan semenjak satu setengah tahun terakhir ini ketika saya sama sekali enggak ada kesempatan mengunjungi kampung, rasanya seneng banget bisa berkunjung lagi. Meski awalnya saya agak enggak yakin akan menyukai kehidupan kampung kota seperti saya menyukai kampung di pedesaan, namun nyatanya kunjungan saya ke beberapa kampung kota kali ini sama - sama menyadarkan saya kembali dengan makna kesederhanaan. Sederhana secara materi, bersikap, maupun dalam melangkah. Berbeda sekali dari kehidupan kota yang apa - apa serba konsumtif, terburu - buru, dan individualis. 






Memang, kampung kota yang saya maksud termasuk kampung - kampung yang sudah mengalami perubahan positif, baik secara fisik lingkungan maupun mental sosial masyarakat yang menempatinya. Saya paham bahwa kampung - kampung yang saya kunjungi ini masih memberikan pemandangan yang enak dilihat oleh mata, entah itu berupa karya seni yang menarik, jalanan kampung yang di beberapa bagiannya terlihat bersih dan tertata rapih, hingga senyum yang diberikan oleh warga setempat kepada orang asing yang tiba - tiba berjalan menyusuri dan mengamati kondisi tempat tinggal mereka tersebut. Tapi jujur, terlepas dari rasa bangga atas semangat dan kreativitas mereka yang nampak dari beberapa sudut di ruang publik kampung yang lebih tertata untuk mengganti kesan kumuh, masih banyak rumah yang tidak layak huni dengan infrastruktur dasar yang masih belum bisa dikatakan memadai. Salah satu yang paling prihatin adalah ketika saya mengunjungi salah satu kampung dimana terdapat sebuah gang yang setiap rumah-nya memiliki ukuran rata - rata 25 meter persegi dan dihuni oleh lebih 3 KK (Kepala Keluarga) dengan total jiwa per rumah bisa mencapai 10 hingga 12 orang!






Namun, apa yang saya lihat adalah wajah - wajah yang masih mampu tertawa, menikmati hidup mereka yang tentu aja enggak semua orang bisa menikmatinya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak - anak disana yang terlihat asik mengobrol dan bermain tanpa menggunakan peralatan elektronik. Mereka menggunakan buku, lapangan bola, ular tangga, layang - layang hingga permainan tradisional lainnya untuk bermain. Ketika melihat beberapa warga asik mengobrol dan menikmati waktu santai mereka di ruang publik kampung yang enggak lain adalah bangku kayu panjang di sudut - sudut gang kampung. Ketika melihat hasil kerja kolektif warga untuk terus menjadikan kampung mereka menjadi tempat yang lebih layak huni dan menyenangkan, meski mereka sepenuhnya sadar bahwa harus melalui perjuangan yang sangat besar dan jalan yang panjang untuk bisa mencapai standar hidup yang layak. Ketika melihat wajah - wajah dan mendengar kata - kata penuh harapan agar apa yang saya lakukan ini bisa membantu mereka untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih baik. Kebahagiaan yang saya rasakan itu bukan hanya membuat saya senang, tapi juga membuat saya lebih bersyukur dengan segala kehidupan yang saya miliki saat ini, serta menambah asupan semangat; bahwa di tengah - tengah kerisuhan yang terjadi di negara ini, masih banyak masyarakat yang optimis dan berpikiran positif terhadap tanah air mereka. 





June 13, 2017

The Answers

"But... how did you two get back together after three years broke up?"

From my family whom I met only a few months ago to old friends whom I just met again after a few years to new people who more-or-less know my love life from my blog or Instagram, that question must be mentioned among other topics during our conversations. As far as I have concerned, it is indeed one of the most asked questions I have got since I'm back to Indonesia. There are some people who seemed to be dumbfounded when I explained the answers, replied me with "If it's meant to be then it will be, yaaa" (re: memang jodoh enggak kemana yaa). There are some people who are disappointed because I cannot get "bule" or Indonesian who lives abroad. There are some people who look sceptical about our on-offs relationship. There are some people who support us and there are some people who are against us.

That's why I have replied them with various answers, which depends on the level of closeness between us, the level of interest that was manifest in their faces, and the level of patience to listen to my explanation.


I can explain it in less than two minutes:

Well, we both tried to make a new relationship with other person, but none of us was succeeded in that case... then we tried to get close with other people, but we always reached at some points where we finally talk to each other again. And it didn't happen only once or twice during those three years, but more than that... that's why we decided to get back together.

Or,

I can explain it within ten minutes:

Well, it actually didn't happen all of a sudden. Around two years ago, which was a year after breaking up, we started to communicate again... we were technically friends, but the way we acted and spoke when we met, I knew that there was something unspoken between us. However, we decided to move on and tried to make a new relationship with other person, but none of us was succeeded in that case. The funniest thing is that even though we broke up in different year, he was there when I broke up and listened to my story, and also the other way around. Then we lost contact again when we tried to get close with some people... but eventually there were always some points where we ended up texting, calling, and Skype-ing each other again whenever we didn't fit with those people. And it didn't happen only once or twice during those three years, but more than that... that's why we decided to get back together.

Or,

I can explain it in a longer, more detailed way than that, but no more than thirty minutes.

It seems like we unconsciously find a way to get back to each other again.... but it took us a while to finally be honest and certain to commit again. Because we always thought that our relationship isn't meant to be a long-term haul. We were afraid that we would do the same mistakes like we did in the past. We still kept our own ego to tell each other what's our true feelings...  until one day when we Skyped, I dropped my ego by telling him that I just couldn't do this anymore because having him in between is much more painful than letting go of him completely... then I told him we better off make something between us as simple as 'take it' or 'leave it'. Ever since that night, we decided to say yes instead of no, we decided to keep fighting than giving up.


But to tell you the truth, none of the aforementioned answers really represents why we finally choose to get back together. Because it's never easy to answers that one sentence question, and without being exaggerated, I swear that at least it takes a hundred pages book to explain all the answers from my point of view.

Because I think people will never understand my feelings until they meet someone who can make them feel like the most delicate thing in the world. Someone who has seen my worth long way before anyone else does. Someone who knows and accepts my weakness better than the way I know and accept myself. Someone who can make my birthday, the only day that I wish I could forget when it comes, to be a day worth remembering. Someone who has given me freedom to explore the world, to reach my dreams, to satisfy my ambition; and still waited patiently for me to come back home. Someone who has been able to forgive my stupid mistakes. Someone who doesn't like to say sweet words easily, but he really meant it when he does. Someone who was there for me in my darkest time and brought me the light I needed. Someone who can teach me how to love and be loved equally and unconditionally.

Because I think people will never understand my feelings until they meet someone who can just suddenly pop into their mind at anytime and anywhere. Like when my iTunes suddenly play Melancholy Hill by Gorillaz, and I wish I could turn back time to the day when he gave me our first song. Like when I explored the streets of Barcelona by myself, and I wish I could get lost together with him someday in this city after watching his favourite football players. Like when I cried watching When Harry Met Sally, and I wish our story ended up like any of those happy couples in the movie. Like when I suddenly received a new message notification from him while I was actually trying to refrain from texting him after months of silence by writing 'hi' and hitting it with the delete button on my phone a few minutes before he sent me one. Like when I saw the rain pouring down the Braga Street in last November, and I wish we serendipitously met there.

Because I think people will never understand my feelings until they know how is the taste of almost losing everything, including someone who meant the world to them. There were mornings in which I woke up with big sadness in my heart because I had the same nightmare that came to me over and over again. At first, I didn't know why he always came to my dream... until one day I realised that the nightmare actually came when I unconsciously thought about my true feelings towards him and found that I already lost the chance to tell him how much important he is to me.


Because I think people will never understand my feelings until I tell them that I don't want to publish something as cheesy as a lovey-dovey post like this, because I have been so cautious about the future that is always full of uncertainty. But I cannot hold my self to not write it all down here because I highly believe that this isn't just a post from someone who is being head over heels in love. I believe that our relationship can last to infinity. I believe we finally choose this way, to accept our weaknesses, to forgive our mistakes, to adjust with the new, better version of ourselves; because this is the answer from all those years of searching and understanding.

June 07, 2017

#ROH 66 : Cycling with Fobi

Sebenarnya dari awal April saya udah pengen banget menulis postingan tentang #ROH yang satu ini, tapi apa daya, mood saya untuk menulis lagi mudah banget turunnya. Anyway, jadi ceritanya tuh selama tiga bulan terakhir ini, level semangat dan rasa bahagia saya cukup banyak berasal dari Fobi, alias si foldable bike (sepeda lipat) yang usia-nya baru 2 bulan. Padahal sebelumnya saya udah sempat skeptis aja untuk membeli sepeda lagi, khususnya semenjak saya mengalami kehilangan sepeda dua kali selama satu setengah tahun tinggal di Rotterdam. Apalagi yang terakhir itu si pencuri-nya meninggalkan gembok saya di tiang parkir sepeda saya! Makin kesel aja deh buat beli sepeda baru lagi. Fyi, pencurian sepeda di Belanda itu udah biasa banget, khususnya di kota - kota besar, termasuk Rotterdam. Bahkan sampai ke taraf dimana untuk mengunci sepeda enggak cukup dengan satu gembok rantai! Enggak heran sih, mengingat kebutuhan sepeda disana kan juga lebih tinggi dengan rentang pengguna-nya yang sangat besar, mulai dari anak balita sampai kakek - nenek. 

Tapi setelah enam bulan tinggal tanpa adanya sepeda, memang enggak enak dan merasa ada yang 'hilang' aja... ditambah lagi saya ini suka merasa bosan aja duduk lama di dalam tram atau metro. Rasanya pengen bergerak! Belum lagi kalo dihitung - hitung ongkos transportasi dari kampus ke apartemen saya, yaa membeli sepeda baru sebenarnya tetap bisa jauh lebih berhemat dibandingkan menggunakan transportasi publik. Alhasil, setelah melewati musim dingin, saya memutuskan untuk membeli foldable bike dibandingkan sepeda biasa, which turned out to be a very much needed and fun companion!




Perasaan bahagia saya ini sebenarnya bukan hanya sebatas karena akhirnya saya bisa merasakan kembali betapa menyenangkannya menghirup udara segar di pagi hari dan sore saat bersepeda, mengayuh sepeda sambil mendengarkan musik sepanjang perjalanan sambil menikmati pemandangan yang udah lama enggak saya lewati (karena rute tram dengan rute sepeda dari apartemen ke kampus saya memang berbeda), tapi juga ternyata dari sekian ragam jenis sepeda yang ada, ternyata Fobi ini memang yang paling tepat untuk saya! Cuma dengan si Fobi saya bisa sepenuhnya merasa aman dan percaya diri saat bersepeda. Padahal sebelum - sebelumnya, meskipun saya suka bersepeda, tapi selama mengendarai sepeda pasti hampir selalu diselimuti perasaan was - was. Maklum deh, saya ini bisa sepedaan tapi enggak ahli banget. Jadi mengendarai sepeda disana yang umumnya memang besar yang mana saya perlu jinjit dulu sebelum mendudukinya, kadang membuat saya takut akan hilangnya keseimbangan. Nah, berhubung si Fobi ini bentuknya kecil, jadi saya merasa bisa sepenuhnya 'mengontrol' diri saat bersepeda. Dan (ternyata) enggak ada yang lebih menyenangkan selain bisa bersepeda tanpa diliputi perasaan takut jatuh atau ketabrak! :)) Bahkan saya sempat menyesal loh, kenapa enggak dari awal aja sih langsung beli si Fobi. Ahh, sudahlah, nanti saya jadi semakin kangen sepedaan bareng Fobi! :')

June 02, 2017

Between Here and There

"How does it feel like living in two completely different world? It must be so exciting, eh?", my father once asked me.

It's been three weeks since I was back to a place where the air feels warm, humid, and heavy with the scent of tropical vegetation. Despite the fact that I had been here just seven months ago for three weeks, the city never failed to surprise me on how much it had changed since the last time I came. It didn't seem like all that long ago that I met familiar faces and voices. It didn't seem like all that long ago that I saw the massive skyscrapers where expats work and middle classes spend their money, surrounded with unaesthetic slum settlements where the poor live. It didn't seem like all that long ago that I had to book drivers with my phone in order to get from one place to another. It didn't seem like all that long ago that sweat would continually trickle down my clothes so easily. Yet I feel like there's a part of myself that is still up there in the air, not yet returning to my body. It feels like I'm still on a jet-lag; half-confused, half-dizzy, half-lost, as if my system is still reeling from reverse culture shock. Maybe that's why I haven't found a complete answer to my father's question.  


May 21, 2017

Let's Fall In Love (Again)

December 4, 2015. That day I went to Bandung for the last time before I move to Rotterdam. I didn't intentionally go there only to have a memorable, emotional farewell with my favourite city. Indeed, I went there to attend a workshop, which was extremely boring that I could not wait to leave until it is finished. So I called him whether he wants to accompany me going around the city for a few hours before I go back to Jakarta. Less than thirty minutes later he picked me up. I didn't exactly remember every conversations we had and every places we visited that day, but one thing I remember vividly from my visit is my happiness. The city brought back so many memories of those one thousand two hundred and seventy seven days when we spent our day together. It convinced me to write something that had been on my mind since a long time ago, that he is and has been one of my source of happiness. And so I wrote #ROH 13, while he gave me Let's Not Fall In Love, a song by Big Bang. The lyrics struck me so bad that I played the song over and over again until a few months later, when I finally accepted his thought of why we cannot be like we used to be.


May 7, 2017. Seventeen months later, we met again in the same city. Without no doubt, a lot of things had happened in our lives before the day. We tried our luck by contesting the 11.505 km distance between us. We tried new possibilities by opening up our heart to other people. But it seems like the universe has been on our side. Neither distance nor time can completely make us turn our back on each other. So we decided to try us once again. That day, I should have played one of my favourite songs by Frank Sinatra in his car and told him that it's time to change our songs to be, Let's Fall In Love. Even though I know that he doesn't necessarily listen to the song to believe that we can be like we used to be. 

May 10, 2017

Another Chapter of Nomadic Life

Padahal baru lima belas hari enggak blogging, tapi rasanya kaya udah lamaaa banget! Maklum deh, sebulan ini memang lebih padat dan hectic karena saya sedang persiapan pulang ke Indonesia untuk mengambil data riset saya dalam waktu beberapa bulan ke depan. Rasanya tuh seneng banget karena kali ini pulang enggak mendadak dan terburu - buru seperti saat bulan Oktober kemarin. Karena memang dari setahun yang lalu ketika merencanakan timeline PhD saya, saya sudah menetapkan akan pulang ke Indonesia sekitar bulan Mei atau Juni 2017 untuk mengambil data riset saya. Alhamdulillah, progress saya selama satu tahun ini lancar sehingga saya bisa pulang sesuai dengan waktu yang saya tetapkan.  Semenjak itu, semakin mendekati bulan Mei saya merasa semakin excited. Tapi hanya ketika saya udah membeli tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia sekitar satu setengah bulan yang lalu, perasaan saya semakin campur aduk. Antara senang, cemas, dan sedih.


Kalau senang sih enggak perlu dijelasin lagi juga udah jelas lah yaaa. Siapa sih yang enggak senang bisa ketemu keluarga, sahabat, dan kali ini bisa lebih banyak kesempatan untuk ketemu teman - teman lama? Apalagi kali ini saya bisa melewati puasa dan lebaran di Indonesia; salah satu hal yang saya paling dikangenin selama tinggal disini! Kalau cemas, hmmm, memang udah bagian yang enggak terelakkan setiap kali saya pindahan. Meskipun memang udah enam tahun belakangan ini hidup saya cenderung berpindah - pindah, mulai dari skala tempat tinggal, kota, hingga negara; tetap aja saya belum terbiasa. Pasti setiap akan pindahan selalu ada perasaan cemas yang menyelimuti. Sekarang sih lebih cemas karena ternyata banyaaak banget to do list yang mesti diselesaikan sebelum pulang. Mulai dari mencari pengganti tenant yang akan menempati kamar saya. Udah sebulan saya menunggu, beberapa kali ada yang tertarik, tapi akhirnya selalu enggak jadi. Sampai akhirnya tiga hari sebelum masuk bulan Mei, tiba - tiba ada yang kontak dan mau menyewa. Padahal saat itu saya udah pasrah untuk tetap tinggal di apartemen saya sampai sebelum pulang. Alhasil, dalam hanya waktu tiga hari saya langsung packing barang - barang yang mau ditinggal sementara waktu di Belanda, yang akan saya bawa selama dua minggu ketika menebeng di tempat teman saya, dan yang akan saya bawa pulang ke Indonesia. Di saat yang bersamaan saya juga masih ada deadline kerjaan untuk mengumpulkan abstrak untuk konferensi dan progress ke professor saya. Terlepas dari semua kondisi ini, saya memang pada dasarnya suka kelewat cemas kalau mau melakukan perjalanan jauh. Apalagi kali ini akan pergi dalam rentang waktu yang cukup lama dan ada 'beban' lebih dari sekedar mau jalan - jalan atau mengunjungi keluarga.


Meskipun udah kelewat senang dan excited untuk pulang, tetap aja ada perasaan sedih. Lebih karena "di saat saya udah merasa settle tinggal disini, kenapa harus pindah ke tempat lain lagi", dan juga karena beberapa teman yang udah membuat saya nyaman disini sebagian besar sudah pada lulus ketika nanti saya kembali kesini. Di sisi lain, karena studi kasus riset saya ada di Bandung dan Yogya, jadi kemungkinan besar saya akan menghabiskan waktu lebih lama di kedua kota tersebut. Sekalipun harusnya enggak akan terlalu sulit untuk beradaptasi lagi karena lingkungannya yang udah cukup familiar dan memang saya pun pada dasarnya menyukai kedua kota tersebut.

Kalau dipikir - pikir, hidup dan manusia itu memang selalu lucu yaa. Sebelum saya merasakan kehidupan nomadic ini, saya selalu merasa bahwa saya enggak akan bisa tinggal di satu tempat dalam waktu yang sangat lama karena pasti akan bosan.  Sekarang, giliran dikasih kesempatan hidup nomadic untuk beberapa tahun ini, seenggaknya sampai saya menyelesaikan program doktoral, baru deh berharap bisa punya tempat tinggal yang settle. Begitulah manusia ya, enggak pernah puas. Hee! Yang terpenting doain aja supaya semuanya lancar yaaa :)

April 24, 2017

Prague : The (Not So) Fairytale City

Bagi kebanyakan orang, Praha termasuk salah satu kota favorit mereka di Eropa. Kecantikan dan suasana romantis yang dimiliki kota ini bahkan sering disamakan dan dianggap mampu menyaingi Paris. Beberapa menyebutnya sebagai 'The Fairytale City' karena suasananya yang juga magical, membuat siapapun yang mengunjungi Praha seperti sedang berada di sebuah negeri dongeng. Saya enggak menyangkal. Beberapa sudut kota ini memang terasa seperti dipenuhi fairy magic dust. Namun dari pengalaman yang saya lalui selama di kota ini, rasanya julukan negeri dongeng terlalu berlebihan. Bahkan awalnya impresi yang saya dapatkan cukup buruk hingga membuat saya bertanya - tanya mengapa banyak orang terkesan dengan kota ini. Ya, saya mempertanyakannya saat hari pertama tiba di kota ini dari Berlin. Saat itu saya dan Gladyz baru aja tiba di terminal bus. Sekitar kurang dari sepuluh menit kami turun dari bus, mengambil barang - barang kami dari bagas bus, lalu berjalan keluar terminal; tiba - tiba Gladyz panik karena dompetnya hilang. Duh! Baru kali ini saya mengalami langsung kecopetan saat melakukan perjalanan di Eropa. Kami pun sempat panik. Tapi akhirnya setelah menenangkan diri dan mencoba melihat dari sisi positif-nya. Misalnya dengan berpikir bahwa "untung sebelumnya saya enggak jadi ngasih yang tambahan ke Gladyz jadi sisa cash yang ada di dompetnya pun enggak terlalu banyak". Atau dengan berpikir "alhamdulillah, masih bersyukur bahwa bukan dompet saya yang diambil". Ini bukan karena ego saya, tapi memang saat itu perjalanan kami masih panjang dan secara finansial perjalanan ini bergantung pada saya. Yang lebih bersyukurnya lagi, seenggaknya bukan hp adik saya yang diambil... kalo enggak dia pasti udah manyun aja sepanjang perjalanan :))








Hal lainnya yang sempat membuat saya dan Gladyz merasa agak ilfil dengan Praha (pada awalnya) adalah cuaca yang sangat panas dan terik di hari kedatangan kami. Belum lagi kami sempat salah mengambil tram dan baru sadar setelah melewati beberapa stop. Dengan bahasa yang sangat asing bagi kami dan tanpa adanya petunjuk dalam bahasa Inggris, kami pun mencoba bertanya dengan salah satu warga disana. Yang lebih apesnya lagi, orang yang kami tanyakan bukan hanya enggak membantu, tetapi juga berbicara dalam Hungarian dengan nada yang ketus seolah sedang marah. Bzzz. Lalu dengan letak apartemen Airbnb kami yang bukan berada di tengah kota (yang merupakan bagian tercantik kota ini), daerah di sekitar kami cenderung dipenuhi oleh bangunan - bangunan yang modern tapi enggak menarik sama sekali dari penampakan luarnya. Baru deh saat kami mengunjungi bagian Old Town baru menyadari kecantikan Praha, lalu bisa bergumam "Oh, jadi ini yang membuat banyak orang jatuh cinta sama kota ini" :))

Tapi pengalaman yang enggak enak di hari pertama kami datang, masih aja terus berlanjut. Saat kami sedang terpana oleh bangunan - bangunan cantik berwarna pastel dan terus berjalan memasuki gerbang Charles Bridge, tiba - tiba ada aroma kue yang sangaaaaat menggugah selera. Ternyata di dekat kami ada sebuah toko kecil dimana salah satu pegawainya sedang memanggang Trdelnik, atau dikenal sebagai Chimney Cake. Karena saat itu kami juga lagi lapar dan itu adalah pertama kalinya kami melihat kue tersebut (jadi agak norak gitu), akhirnya kami membelinya. Meski saat itu saya curiga kok harganya mahal banget. Tapi ya gapapalah sekali - kali nyoba kue ini kan jarang ditemuin. Eh terus enggak lama kami berjalan memasuki bagian pusat kota, ternyata banyak banget toko yang menjual kue ini... Dan udah bisa ketebaklah yaa, harganya pun setengah harga di toko yang kami temukan sebelumnya! 

Terlepas dari pengalaman enggak enak kami di hari pertama, sebenarnya ada beberapa hal yang menyenangkan dan berkesan bagi saya selama di Praha. Nanti akan saya ceritakan di postingan berikutnya ya! ;)






April 23, 2017

Conversations With Mom #5

Unlike other several conversations we have had, this particular conversation is actually the one that I really want to change. If only I could rewind time to the day when we had that conversation. It was actually very short, and indeed the shortest one, but I personally feel like it holds deeper meaning than any other conversations I had with her. Maybe because of that reason, it takes time for me to publish the conversation here. Most probably because they are more personal than any of our conversations that I have written here, and I wasn't sure if I could properly convey them into words and not feel insecure afterwards. But now after some time, I have never felt this sure to publish it here.


The first thing she did when she arrived at my apartment was unpacking her luggage to take out all the things she brought all the way from Indonesia for me. Then she gave me was this beautiful purple box that was wrapped with glossy white ribbons.

"Ozuuuuu.... this is a birthday present for you", she gave it to me with a wide smile and cheerful tone.

I actually didn't expect any present, not even from her. So I was a bit surprised at that time.  

"Awww.. thank you, Mom", I reflectively hugged her.  It's weird that even though my mom has always given me birthday presents almost every year, only this time I felt awkwardly shy. 
"Come on, open it", she said with excitement

I untied the ribbon and opened the box. Inside was a plaid black-and-white dress. Then there was a grey knitted culotte which lied under it. Two things that are well suited with my type.

"These are so pretty! Thank you Mom", I kissed her on the cheek.

She smiled, but the kind of smile that wasn't entirely happy. Indeed, there was a hint of uneasiness.

"You are welcome... don't be sad anymore, okay? Because whenever you sad, I get sad too"

I smiled and nodded, trying to not feel nor appear overly sentimental, and I also had a feeling that she was attempting to do the same. Otherwise, we would cry together. 

"How do you feel now?" she asked me while I was examining the clothes, whether it fits to my body that had gained more weight.
"I'm fine, Mom...."
"Are you sure? Because you don't seem like it"

 I fold the clothes and put them on a drawer. 

"I think I have told you already a few times before that I would never be like how I used to be.... everything that has been broken won't be the same anymore, Mom.. It also applies to my happiness..."

I knew I shouldn't have told her this statement. Partially because I wasn't sure about the answers, but mainly because at that time my mom had just arrived. And she went all the way to come here just to support me. And I should have had at least made an extra effort to cover my true feelings in front of her. I should have tried to seem happier than I was.  

"That's why I also told you that the reason it all happened is not because I have been in the down period of my PhD... not because I haven't settled yet in here... and not also because I don't have someone to  make me feel complete... it's all about me. There were times when I spent too much time with myself and that's how I started thinking so many things about me and about life itself. I started to blame and underestimate myself. I started to assume that there were some changes within me that will not make me revert to who I used to be... no matter how hard I try"

I didn't know exactly how she responded to all my awful words that came up, but all I remembered was she just kept quiet.

"But at least, I think I'm used to this condition... so now, every time I start to feel anxious and overwhelmed, I always try to use more of my logic and control my mind... because only then I would not exaggerate my feelings"


That was the answer of the me who was still confused about my feelings, who was still unsure about my problems, and who was still recovering from my depression. But two months had passed, and everything has changed, including my life and my perspective towards everything that happened during those seven darker months. I wish my mother would ask me again this time. Even though I'm sure the reason she never asked about my feelings again since the past two months is most probably because she knew already that her daughter is already back to the one she has always known for twenty six years. But only, only if I could turn back the time, I would definitely answer it in a complete different way.

So, by the time she asked me, "How do you feel now?"

I would say,"I've never been better, Mom. I think this time is one of the happiest times in my life... because I finally got all the answers that I kept questioning myself in the past few months"

And maybe she would ask, "What answers?"

"Answers of many things I wasn't certain of, like the reasons why I experienced the worst nightmare in my life... but what is the most relieving answers are to know that there is nothing wrong with me and to disprove my thought that I could never fully recover and be back to the same person I used to be"

And I can imagine she would say, "Of course... I'm the one who told you  so many times that it all happened because you had so many problems that you kept only to yourself... and the effects became so much worse than it should, because at the same time, you kept blaming yourself as one of the main reason of those problems..."

"Yes, you are right, Mom... I'm sorry for being so stubborn"

I can imagine how she would agree with this statement, as I have always been a stubborn person. "Yes, you are very stubborn... I even gave you an article about self-rumination from a well-known psychological journal, but you kept denying it and telling me that I was wrong"

I remembered the first time I finally opened up to my parents about what I had been through and how they analysed me like psychologists (which they are). No long after that day, she told me that I was experiencing what psychologists referred to as 'self-rumination'. Basically, it was the 'wrong way' to cope with problems. People who experience rumination would be too much focused on the negative assumptions of their problems that came from their emotions. They tend to blame themselves too much about those problems, which is actually the opposite act of what they are supposed to do. This could lead to more negative effects, including depression, rather than direct them to solutions. To me, who has passed through those problems, it all makes sense. Indeed, it was exactly what I experienced at the time. But it wasn't so easy for me to be so logical when I was in that position.

"I know... I made everything worse by doing so much self-talk to an extent that I assumed so many possibilities other than those problems, including of how I see myself. But now, when each of those problems has been solved one by one, I can see my condition at that time in a much clearer way... I can safely say that I was just unlucky, and yet it's just an inevitable part of our life when many unfortunate things happened unexpectedly at the same time... But I'm grateful, very grateful, that they didn't kill me, and so it all only made me stronger"

Maybe had I told her directly back then, I can imagine we would both be crying. With big relief in our hearts. 

April 09, 2017

#ROH 65 : Photoshopping

Dari awal saya memiliki blog ini, salah satu hal yang paling sering menjadi pelampiasan saya selain mengeluarkan pikiran dan perasaan melalui tulisan dan foto, adalah berbagi hasil eksperimen dengan menggunakan aplikasi favorit saya sepanjang masa, yaitu Adobe Photoshop. Meskipun sebenarnya enggak bisa dibilang ahli juga karena penggunaan saya cenderung hanya untuk basic editing, namun karena saya udah terbiasa menggunakannya selama kurang lebih dua belas tahun, jadi yaa udah terlalu nyaman untuk pindah ke aplikasi lainnya. Kalau menggunakan hp biasanya saya juga suka mengedit foto dengan VSCO. Tapi berhubung saya enggak tau cara men-download aplikasi VSCO di laptop dan cukup ribet untuk memindahkan file dari hp (android) ke laptop (macbook) saya, jadi kalau untuk blog saya masih hampir selalu menggunakan Adobe Photoshop. Nah, tumben banget dari minggu lalu saya udah kepikiran pengen main - main dengan aplikasi ini selain dari penggunaan saya seperti biasanya. Berhubung saat ini saya lagi centil pengen menampilkan foto ala - ala di blog (heu!) dan kebetulan dua Eurotrip saya terakhir memang cukup banyak foto ala - ala yang masih layak untuk di-upload di blog (ha!), jadi hari ini semangat deh buat ngubek foto lama. Sekalian juga sih karena udah lama enggak menggunakan Photoshop selain hanya untuk mengatur warna dasar foto, akhirnya saya memutuskan untuk mengedit beberapa foto tersebut dengan layout yang agak berbeda dari biasanya. Ini ceritanya sih sekalian melampiaskan keinginan saya untuk kerja di majalah yang belum kesampaian hingga sekarang :))










April 08, 2017

#ROH 64 : Post-crossing

Sejujurnya saling bertukar postcards atau post-crossing bukanlah hal favorit saya. Meskipun saya suka mengumpulkan postcard setiap kali traveling atau setiap kali melihat ada yang postcard yang menarik, biasanya saya mengumpulkannya hanya untuk menjadikannya sebagai pajangan atau pengingat akan tempat tertentu. Saya sih enggak keberatan dan tetap merasa senang kalau ada yang mengirimkan kartu pos ke saya, hanya saja saya seringkali merasa mager untuk mencari kantor pos (apalagi kalau lagi traveling). Selain itu kadang saya juga suka bingung sih apa yang mau ditulis di dalam ruang untuk menulis yang sangat terbatas di dalam sebuah kartu pos. Ujung-ujungnya merasa seperti basa - basi atau malah aneh gitu yang ditulis. Heu! Namun suatu hari saya tiba - tiba aja kepikiran untuk mengirimkan kartu pos secara random. Maksudnya memang tanpa terpikirkan siapa yang ingin saya kirim. Alasannya? Enggak ada... hanya karena ingin aja. Pernah enggak sih kamu merasa sedang sangat menikmati hidup yang kamu miliki saat ini sehingga kamu ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Nah itu yang saya lakukan melalui post-crossing ini.  Memang hanya ingin menulis dan berbagi dengan orang yang mungkin saya kenal tapi udah jarang berkomunikasi atau orang yang sama sekali saya enggak kenal.



Alhasil, tepat seminggu lalu saya meng-upload di Instagram story saya, meminta siapa aja yang tartarik untuk dikirimkan postcard agar mengirimkan pesan melalui postingan saya tersebut. Karena memang dari awal saya hanya membatasi 10 postcards, maka dalam waktu 40 menit ketika sudah mencapai 10 orang yang akan saya kirimkan, langsung saya hapus postingan saya tersebut. Hasilnya lumayan banget, beberapa adalah teman saya sendiri tapi udah lama banget enggak ketemu, beberapa adalah teman online saya alias orang - orang yang saya kenal melalui blog namun belum pernah ketemu langsung, dan beberapa adalah orang yang belum saya kenal. Ternyata menyenangkan loh menulis pesan singkat yang berbeda di sebuah kartu pos. Apalagi belakangan ini saya udah jarang menulis dengan tangan, jadi semakin seru aja ketika menulisnya hehe.  



Enggak seberapa sih berbaginya, cuma saya berharap yang menerimanya akan merasa senang ketika menerima kartu pos dari saya seperti rasa senang yang saya dapatkan ketika membeli kartu pos - menulis pesan - mengirimkannya di sebuah box di kantor pos; atau ketika saya menerima sesuatu yang jarang saya lakukan dari orang yang jarang atau belum pernah saya temui secara langsung :)