August 31, 2017

#ROH 72 : Planologi ITB 2007

Dari dulu udah sering banget dengar kalau masa - masa terindah itu ada di saat memakai seragam putih abu - abu, alias saat SMA. Ada masanya memang ketika saya merasa sangat menikmati masa itu... tapi jika dibilang masa terindah dalam hidup, rasanya tetap enggak ada yang menandingi keindahan empat tahun kuliah sarjana di ITB. Terlalu banyak pengalaman dan pembelajaran, serta kenangan manis maupun pahit, suka maupun duka, tawa maupun tangis yang saya lalui selama empat tahun di kampus ini. Sampai saat ini, setiap kali saya lewat di depan ITB, perasaan saya selalu campur aduk. Antara bahagia, sedih, dan bangga. Bahagia, karena rasa syukur akan takdir yang membawa saya hingga bisa melewati salah satu masa muda saya di tempat ini. Sedih, karena mengingatkan dengan segala kenangan yang enggak akan pernah saya dapatkan kembali untuk ke depannya. Bangga, karena memang banyak hal - hal yang diberikan oleh kampus ini, yang enggak saya lihat di kampus lain. Dan salah satu hal yang paling banyak memberikan kehangatan adalah angkatan saya sendiri, yaitu Planologi ITB 2007.


Dari pertama kali ada wacana tentang reuni satu dekade Maro07n atau Ujen, panggilan akrab untuk Planologi 2007, saya termasuk salah satu yang excited. Abisnya semenjak lulus tahun 2011 silam, enggak sampai setengah dari angkatan yang bisa saya temui. Itu pun semakin tahun semakin berkurang intensitas bertemu dan begitu juga jumlah orang yang saya temui. Makanya senang banget ketika beberapa teman saya mengumumkan bahwa reuni ini akan diadakan, dan ternyata bertepatan dengan jadwal saya saat masih di Indonesia! Nyatanya, memang bikin sempat susha move on setelah reuni, karena ternyata yang hadir lebih banyak dari ekspektasi saya dan ya itu sih, rasa kebersamaan antar ujen masih enggak berubah dari dulu. Yaa masih aja suka ngecengin orang, yaa masih aja otaknya suka kecil dengan kelakuan minus (kami suka menyebut ujen itu ocil, alias otak kecil). Intinya sih, saya pribadi merasa enggak ada yang berubah dari Ujen, selain beberapa status mereka yang berubah menjadi Ibu, Bapak, calon Ibu/Bapak, dan pasangan yang baru menikah. Kalo kata Bu Dewi, salah satu dosen kami dulu, yang berubah hanyalah penampilan fisik. Kalo sekarang para mantan mahasiswanya beliau ini kelihatan lebih cantik dan ganteng. Apalagi para laki - laki yang sekarang udah jauh terlihat ganteng karena sudah mapan, berbeda dari dulu yang kelihatan jelek karena masih jadi mahasiswa kere :))






Bercerita sedikit tentang Ujen, saya ingin mengutip tulisan yang dibuat Elmo, salah satu teman saya di angkatan ini, yang tulisannya mewakili sepenuhnya perasaan dan pemikiran saya :

Maro07n merupakan kumpulan 109 individu dari berbagai macam karakter dan background, yang uniknya 109 karakter berbeda ini saling melengkapi satu sm lain. Saya ga bs bilang ga ada 'kubu-kubu' an di Maro07n, hal lumrah ketika ada kelompok kecil dimana zona nyaman terbentuk. Namun, proses 4 tahun menjadikan tiap2 Maro07n mau membuka diri utk saling menghargai satu sm lain, sehingga kita respect dan supportive satu sm lain layaknya keluarga. Ada satu tagline khas kita: 'Woles Ulales' a.k.a 'woless'... yang makin kesini saya merasa woles merupakan konotasi dari Be Humble. Kenapa saya mengartikan Be Humble karena banyak individu - individu hebat di path yg berbeda tapi tetap humble tanpa harus berkoar - koar. Sepuluh tahun berjalan, masing - masing dari kita memiliki path dan pattern yang berbeda. Tidak ada siapa yg lebih hebat dr siapa. Setiap dr kita unik dan hebat di setiap jalannya. Saya banyak belajar dari masing-masing Maro07n di setiap jalurnya: pengusaha, PNS, banker, ibu rumah tangga, dosen, konsultan, dll. You are awesome guys! Saya yakin Maro07n akan terus menjadi keluarga dan bagian hidup saya selamanya dan I'm very proud of it. Doa tulus saya untuk keluarga Maro07n yang lain untuk terus bahagia dan sukses. You are my family and family always support each other. 

Sekali lagi makasih banyak untuk para panitia acara yang udah meluangkan waktunya untuk mengurus reuni ini. Meskipun setengah hari berasa cepat banget berlalu dan enggak cukup untuk bisa ngobrol banyak, meskipun enggak semuanya datang, tetep aja rasanya udah seneeeeng banget bisa ketemu dan kembali merasakan kenangan - kenangan indah yang saat ini hanya bisa tersimpan rapat di kepala ini. Sampai bertemu kembali di reuni dua dekade, Maro07n tersayang! 






August 21, 2017

Berlin : The City of Youth

Bisa dibilang Berlin adalah satu - satunya kota yang paling saya underestimate, baik dari sebelum datang hingga setelah mengunjunginya. Kalau bukan karena adik saya yang memasukkan kota ini ke dalam itinerary kami, mungkin sampai sekarang saya belum ada niat sama sekali untuk ke Berlin.  Selain pada dasarnya saya memang enggak begitu tertarik dengan kota - kota di Jerman, begitu mendengar dari seorang teman yang sempat tinggal lama di Berlin kalau tata kota-nya sangat berbeda dengan Rotterdam yang sangat teratur dan bersih, saya jadi semakin enggak berselera untuk datang. Meskipun di sisi lain, saya cukup penasaran dengan kota yang sering disebut sebagai salah satu creative city di Eropa dan kiblat para hipster ini, yang tentunya memiliki segudang creative spaces dan creative community yang jauh lebih pesat dibandingkan Rotterdam dan kota - kota di Eropa lainnya. Dan harus saya akui kalau enggak berlebihan jika Berlin dibilang sebagai kota para hipster dan anak muda. Seakan - akan hampir setiap sudut Berlin pasti terlihat artistik dan 'hidup', sekalipun dilihat dari hasil bidikan kamera. Seakan – akan dibalik sejarahnya yang kelam, kota ini telah berhasil bangkit dan kembali berwarna, hingga kembali berjiwa muda. Mungkin karena begitu banyak ruang publik yang diisi oleh instalasi – instalasi seni seperti mural, seniman jalanan, hingga dekorasi yang meriah. Mungkin karena jumlah wisatawan yang begitu banyak atau mungkin juga karena orang – orang disini memang lebih berani untuk bereksperimen, bisa dilihat dari street style para Berliners yang terlihat lebih stylish dibandingkan Dutch yang terkenal cuek dengan penampilan mereka.
 










August 01, 2017

The Hardest Battle : My Fight Against Depression

Percaya atau enggak, tulisan ini udah tersusun rapih semenjak delapan bulan yang lalu, tepatnya tanggal 17 Desember 2016. Saat itu akhirnya berhasil diselesaikan setelah kesekian kalinya mencoba menulis, yang selalu enggak selesai dan berujung sebagai draft. Ternyata menulis tentang topik ini lebih susah dibandingkan menulis hal - hal vulnerable tentang diri saya yang sebelumnya pernah saya tulis di blog ini. Mungkin karena saya merasa apa yang akan saya tulis disini bukanlah hal yang sepenuhnya positif  atau bisa bermanfaat bagi orang yang membacanya. Saya juga sempat bertanya ke beberapa orang terdekat saya tentang niat saya untuk menulis ini, tapi kata mereka saya lebih baik saya enggak menulis. Katanya, saya bisa kehilangan pembaca karena baginya selama ini saya terlihat sebagai orang yang selalu membawa pesan positif, terutama melalui berbagai tulisan yang saya buat disini. Katanya, orang - orang ingin selalu melihat sisi baik dan bagusnya aja, sesuai dengan apa yang mereka ekspektasikan. Tapi begitu mendengar cerita beberapa teman dan orang yang saya kenal di blog maupun Instagram tentang pengalaman yang serupa, terutama belakangan ini ketika berita bunuh diri kembali mencuat, hati saya kembali tergerak untuk mempublikasikan tulisan ini. Apa yang mereka utarakan membuat saya sadar bahwa terus menutupi tentang apa yang pernah saya alami setahun kemarin bukanlah suatu tindakan yang tepat. Memang postingan ini enggak bisa dibilang positif dan solutif, tapi seenggaknya mungkin dengan berbagi apa yang pernah saya alami ini bisa membuat orang - orang yang merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan menyadari bahwa mereka enggak sendirian. Bahwa apa yang terjadi dengan mereka bukanlah hal yang aneh, memalukan, dan perlu ditutupi.



Saya pun kaget dengan perubahan drastis dalam hidup saya, atau lebih tepatnya dengan diri saya sejak pertengahan Juli tahun lalu. Suatu hari saya tiba - tiba terbangun dengan sebuah perasaan enggak enak banget yang mengganjal di dalam hati saya. Kepala dan pundak saya terasa seperti menanggung beban sangat berat. Belum lagi perasaan takut dan khawatir yang berlebihan, yang terkadang bisa membuat saya benar - benar enggak bisa melakukan hal apapun. Disertai dengan perasaan hopeless bahwa enggak ada hal yang bisa saya lakukan untuk keluar dari perasaan cemas yang menyelimuti sekujur tubuh saya. Enggak lama sejak saya merasakan berbagai perubahan tersebut, tidur saya juga mulai terganggu. Saya sering terbangun secara tiba - tiba di tengah malam, dan ada kalanya disertai dengan perasaan panik, cemas, dan takut. Kadang saya bisa dengan mudahnya kembali tidur, kadang ada saatnya saya enggak bisa tertidur lagi. Padahal sebelumnya saya jarang banget ada gangguan tidur. Di saat yang hampir bersamaan, saya juga merasa mual terutama setiap kali bangun di pagi hari. Setelah tiga minggu terus - terusan seperti itu, saya putuskan untuk cek kondisi saya ini ke dokter. Dan saat itulah saya diberitahu bahwa apa yang saya alami ini karena saya stres hingga mempengaruhi kondisi fisik saya. Setelah dikasi obat anti mual, kondisi saya kembali seperti awal. Walaupun saat itu sebenarnya saya udah agak curiga bahwa apa yang saya alami saat itu bukan hanya sekedar stres. Tapi melihat bahwa saya masih bisa banyak tertawa dan mengendalikan mood saya supaya tetap baik. saya pun menganggap bahwa saat itu saya memang hanya sedang cemas terhadap beberapa hal besar yang akan datang.


Nyatanya, setelah semua itu satu persatu terlewati, bukannya kondisi saya semakin membaik malah semakin memburuk. Ada saatnya sih memang saya merasa bersemangat menjalani hidup dan kembali merasakan energi positif dari berbagai hal di sekitar saya. Ketika saya terbangun tanpa ada perasaan berat yang menyelimuti diri saya. Ketika saya bersepeda di pagi hari sambil menghirup udara dingin segar dan matahari pagi yang bersinar. Ketika kembali bertemu dan mengobrol dengan teman - teman saya maupun kenalan dengan orang - orang baru. Atau di momen - momen lainnya yang sebenarnya enggak ada yang begitu spesial, namun seketika saya merasa 'hidup kembali'. Tapi akhirnya saya sadar bahwa berbagai semangat yang saya rasakan tersebut hanya berlangsung sementara, malah kadang terasa berlalu begitu cepat. Tergantikan kembali dengan perasaan hampa dan pikiran negatif yang merasuki diri saya. Saya sempat menduga bahwa apa yang saya rasakan ini merupakan bagian dari mood swing yang terjadi ketika saya mau datang bulan. Namun ternyata saya bukan hanya merasakan ini ketika saya berada periode tersebut, tapi hampir setiap hari. Beneran setiap hari mood saya bisa berubah. Hari ini semangat. Besok cemas dan pesimis. Besoknya lagi semangat. Hingga perubahan itu bukan hanya dalam hitungan hari, tapi juga hitungan jam. Akhirnya saya menyadari bahwa ini bukan lagi sekedar PMS, tapi memang ada sesuatu yang lebih dari itu. Setelah membaca dari berbagai sumber, asumsi paling kuat saya hingga saat ini adalah depresi. Kata mereka yang juga mengalaminya, hidup mereka seperti ketika mereka terjerumus ke dalam sebuah lubang yang sangat dalam dan gelap seorang diri dan enggak menemukan cara untuk keluar. Dari pengalaman yang saya lalui, apa yang saya rasakan sesederhana bahwa saya enggak bisa lagi berpikir positif terhadap hidup dan diri saya. Sampai satu hal yang saya tanyakan pertama kali ketika saya bangun dan membuka mata adalah "kenapa gw masih hidup?"



Semenjak itu, entah udah berapa kali saya menangis secara tiba - tiba; tanpa mengenal waktu dan tempat. Di kamar, ruang kerja di kampus, kereta, toilet. Pagi hari saat baru bangun tidur, siang hari, sore, maupun tengah malam. Padahal sebelum memasuki masa ini, saya jarang banget nangis, apalagi tanpa alasan yang jelas. Dan dalam periode enam bulan ini, menangis tanpa alasan enggak hanya terjadi sekali-dua kali, tapi udah enggak terhitung lagi. Kalian bisa bilang saya cengeng, namun sejujurnya, saya pun enggak mengerti apa yang terjadi. Kadang saya bersyukur bahwa saya masih bisa menangis karena itu satu - satunya cara saya saat itu untuk bisa mengeluarkan perasaan dan emosi saya. Yang juga menunjukkan bahwa saya masih bisa mengekspresikan diri saya. Karena saya enggak bisa lagi mengeluarkan emosi saya ketika marah, excited, maupun sedih. Karena ketika saya lagi enggak beruntung, ada kalanya menangis pun enggak bisa lagi dilakukan. 

Perlahan - lahan saya pun melihat semakin banyak perubahan yang terjadi dalam diri saya. Saya mulai melakukan hal - hal yang berlawanan dengan apa yang biasa saya lakukan. Melihat kamar saya yang berantakan, saya enggak ada semangat untuk merapihkannya. Melihat papan to-do-list dan notebook saya kosong, saya enggak ada keinginan untuk mengisinya. Saya yang biasanya suka merencanakan segala sesuatunya dan organised, menjadi orang yang 'berantakan' dan enggak peduli lagi dengan jadwal harian saya. Hingga suatu ketika saya sempat lupa bahwa ada kelas yang harus saya ikuti, dan akhirnya baru tiba satu jam kemudian. Saya yang sangat peka terhadap apa yang saya konsumsi semenjak satu setengah tahun lalu saya menerapkan pola hidup sehat, kali ini ketertarikan saya untuk makan makanan yang enggak sehat muncul lagi dan dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan biasanya. Bukan hanya itu, saya terus mencari makanan yang 'enggak sehat' dan saya enggak lagi peduli dengan apa yang masuk ke dalam tubuh saya. Sekalipun saya udah merasa kenyang atau malah enggak lapar, tapi diri saya menuntut saya untuk makan karena itu bisa membuat saya merasa lebih baik.


Saya menjadi orang yang sangat sensitif dengan kritik dan sikap orang lain terhadap saya. Saya mudah berprasangka buruk dengan apa yang orang lain pikirkan dan katakan tentang saya. Saya jadi semakin takut untuk berkomunikasi dengan orang - orang baru. Bahkan, saya juga enggak ingin banyak berkomunikasi dengan mereka yang udah lama saya kenal maupun yang baru saya kenal; baik komunikasi secara langsung (bertemu) maupun melalui text dan telefon. Jadi kalau saat itu ada orang yang menganggap saya anti sosial, mungkin saya enggak akan membantah. Karena memang terlihat seperti itu adanya. Saya yang biasanya selalu semangat mencoba hal baru; saya yang memiliki beribu mimpi; saya yang mudah dibuat bahagia oleh hal - hal kecil, kali ini semuanya hilang. Saya enggak lagi memiliki semangat melakukan hal baru. Saya enggak lagi tergiur dengan belahan dunia yang belum saya lihat. Saya bahkan enggak tau lagi tujuan hidup saya. Saat itu rasanya enggak ada satu hal pun yang membuat saya merasa excited untuk menanti masa depan saya. Saya yang sebelumnya merasa sangat percaya diri dan menerima diri saya sepenuhnya, saat itu saya mulai kehilangan kepercayaan diri. Hingga mencapai tahap dimana saya merasa sangat sedih dan malu setiap kali melihat diri saya di depan kaca. Wajah yang pucat dan menua. Lingkaran hitam yang sangat besar di sekitar mata. Tatapan kosong dan kelopak mata yang layu. Dalam masa itu, saya merasa hanya raga saya yang masih berfungsi, tapi jiwa saya udah enggak ada lagi.

Padahal selama dua puluh lima tahun hidup, saya udah sering mengalami berbagai jenis masalah yang beberapa diantaranya bahkan sangat berat untuk dihadapi. Sekalipun begitu, enggak ada satu pun dari permasalahan tersebut yang membuat saya merasa selemah dan enggak berdaya seperti ini. Kalau ditanya apa penyebab utamanya, saya masih belum yakin dengan jawabannya. Bisa jadi karena saat itu saya belum terbiasa dengan lingkungan dan orang - orang di kampus, ditambah kehidupan PhD yang memang cenderung sulit untuk memiliki social circle yang tetap; atau karena saya baru pindah tempat tinggal dengan kondisi yang sangat berat karena banyak menguras tenaga, pikiran, hingga tanpa sadar juga mempengaruhi mental saya; atau karena salah satu pembimbing saya yang sempat lepas tanggung jawab karena terlalu sibuk; atau karena saya sedang jenuh dan merasa stuck dengan riset yang sudah berbulan - bulan saya kerjakan tapi belum juga menunjukkan progress yang memuaskan; atau karena hubungan saya dengan beberapa orang terdekat saya saat itu sedang enggak enak. Tapi yang jelas semua itu merujuk ke satu hal yang sama, yaitu saya merasa bahwa saya sendirian. 



Jika sayang bilang saya merasa sendirian, kenyataannya memang seperti itu. Berbulan - bulan saya memendam semua permasalahan yang saya hadapi sendirian. Enggak ada satu orang pun yang tau selain kedua adik saya. Bahkan ada hari - hari dimana saya enggak lagi cerita ini ke mereka. Hingga saya mencapai satu titik dimana saya udah enggak kuat lagi dan hampir 'menyerah', di saat itu kedua orang tua dan juga kedua sahabat saya mulai menyadari ada yang enggak wajar dengan kata - kata saya. Dan akhirnya saya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sejujurnya, menceritakan apa yang saya rasakan dan alami bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi ketika enggak ada orang terdekat saya yang melihat secara langsung kondisi saya sehari - hari disini. Dan dalam kasus saya ini, juga membuat siapapun yang mengetahuinya kaget karena mereka melihat saya baik - baik aja. Iya, tanpa saya sadari pun ternyata saya semakin mahir dalam mengendalikan muka dan emosi saya. Saya bisa tertawa di saat hati saya sedang enggak enak. Saya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Saya bisa tersenyum di saat pikiran saya sedang cemas. Jadi saya pun enggak menyalahkan mereka yang tanggapannya pun hampir mirip semua. 

Mereka bukan hanya kaget dengan situasi saya ini, tapi mereka juga awalnya menganggap bahwa ini semua terjadi karena saya kurang bersyukur dan kurang mendekatkan diri ke Tuhan. Bahwa sebenarnya saya baik - baik aja. Bahwa sebenarnya masalah yang saya alami ini enggak seberapa dengan apa yang dialami oleh banyak orang lain yang menanggung masalah hidup lebih berat dibandingkan yang saya miliki. Bahwa tekanan dan perasaan negatif yang saya rasakan hanya karena pikiran saya yang sedang negatif. Karena yang mereka lihat adalah saya yang secara fisik, finansial, pekerjaan, dan kualitas hidup terlihat baik, bahkan lebih, dari kebanyakan orang. Saya yang masih single sehingga belum merasakan beban dalam mengurus rumah tangga. Saya yang masih memiliki orang tua, keluarga, sahabat, teman, dan bahkan saya pun sempat dibecandain oleh mereka, "kamu kan punya orang - orang yang kagum sama kamu". 

Tapi bukannya menenangkan saya, justru mendengar tanggapan mereka seperti itu membuat saya semakin malas untuk menceritakan kondisi saya ini. Karena saya merasa bahwa orang - orang terdekat saya aja enggak bisa memahami saya, lalu kepada siapa lagi saya bisa meminta bantuan? Tapi akhirnya saya sadar bahwa saya enggak bisa menyalahkan tanggapan awal mereka, karena memang saya pun awalnya beranggapan bahwa ini semua hanya terjadi bagi orang - orang yang kehilangan orang yang disayangi, kondisi ekonomi dan fisik yang kritis, serta hal - hal yang "terlihat" berat lainnya. Mereka lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial paling kompleks yang enggak bisa dinilai dari apa yang terlihat. Dan dalam kasus saya ini, hal yang membuat saya depresi bukan satu atau dua hal, tapi banyak hal, baik faktor internal diri saya maupun faktor eksternal.



Untungnya terlepas dari semua yang saya alami tersebut, saya masih terus berusaha untuk mengubah perasaan dan kondisi ini supaya saya masih tetap seperti dulu. Ada beberapa hal yang sangat membantu dalam memulihkan kondisi saya dan membuat saya bisa bertahan hingga saat ini:

1. P3K 
Iya, masih ingat kan P3K alias Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan. Ini berlaku juga ketika lagi depresi. Coba inget - inget hal apa yang paling mudah kamu lakukan tanpa terlalu banyak bergantung dengan orang lain dan hal. Bagi saya, P3K ini adalah sholat dan makan! Rasanya jauh lebih tenang setelah menangis saat berdoa sambil memasrahkan semuanya kepada Tuhan dan setelah makan makanan yang saya suka. Meskipun saya tau bahwa terlalu sering melarikan perasaan cemas ke makanan yang saya makan akan memberikan dampak negatif dalam jangka panjang dan justru menambah permasalahan baru bagi saya nantinya, tapi jika memang ini bisa jadi pertolongan paling cepat untuk bisa membuat saya less anxious, then it doesn't matter anymore. Memang sih P3K ini enggak selalu bisa membantu atau membuat kondisi menjadi lebih baik, karena saya pun enggak jarang juga setelah sholat maupun makan tetep aja ujungnya hati saya enggak tenang. Makanya perlu diikuti juga dengan beberapa cara berikutnya.

2. Cerita ke orang - orang yang bisa membuat kamu nyaman (!!!!!)
Satu akar masalah dari depresi yang saya alami ini adalah bahwa saya udah terlalu lama memendam masalah - masalah yang saya lalui seorang diri. Tanpa saya sadari, saya menjadi orang yang semakin tertutup, hingga saya juga enggak pernah menceritakan masalah saya ke orang terdekat sekalipun.  Hal ini diperparah ketika saya jadi terlalu banyak self-talk dan semakin lama self-talk yang saya lakukan bukan ke arah positif melainkan ke arah negatif. Dan akhirnya ketika saya perlahan - lahan terbuka menceritakan semua masalah yang saya hadapi ke keluarga dan sahabat saya, saat itu pula saya berangsur - angsur mulai merasa lega. Kalo kata orangtua saya, akar depresi saya ini udah kaya benang kusut saking banyaknya. Alhasil setelah mengobrol dengan mereka, benang kusut tersebut satu persatu mulai terurai. Walaupun belum ada solusi dari semua permasalahan tersebut, tapi setidaknya dengan cerita ke mereka, ada pikiran dan pendapat lain yang bisa membantah pikiran negatif yang saya miliki.


3. Find Your Happiness
Salah satu hal yang paling penting dari ROH (Reproduction of Happiness) sebenarnya bukan hanya mengingatkan saya dengan hal - hal kecil yang membuat saya bahagia, tetapi lebih dari itu, adalah dengan ROH juga menyadarkan saya bahwa hal - hal yang sebelumnya enggak pernah membuat saya merasa bahagia ternyata bisa membuat saya bahagia. Apalagi semenjak saya membuat label khusus tentang #ROH di blog saya, saya jadi semakin semangat menceritakan berbagai hal tersebut. Lalu dengan menceritakannya disini otomatis saya mengingat sisi positif dan menyenangkan dari hal tersebut. Dan secara enggak langsung itu kembali membuat saya bahagia saat menulisnya disini. In other words, ROH membuat saya bisa melihat sisi positif dari kondisi eksternal di sekitar saya. Sesederhana membuat dan menyantap sarapan pagi, main dengan kucing, melihat pemandangan di luar kaca jendela kamar saya, mendapatkan bantuan dari orang yang enggak saya kenal, dan masih banyak hal lainnya yang terus menerus datang untuk menghangatkan jiwa dan hati saya.

4. Tackling Negative Thoughts with Distractions
Selama saya depresi, satu godaan terbesar adalah bangkit dari tempat tidur. Rasanya setiap saat saya hanya ingin di dalam kamar sendirian, bersembunyi di balik selimut. Tapi saya selalu berusaha untuk enggak seperti itu dan melakukan hal lain yang bisa mengalihkan pikiran saya. Karena setiap kali saya bersembunyi, setiap kali juga pikiran - pikiran buruk semakin banyak bermunculan. Mulai dari bersepeda, bikin furniture (untungnya saat itu saya masih sibuk membenahi apartemen baru saya), olahraga, hingga ngobrol dengan orang lain. Intinya yang bikin pikiran saya enggak 'kemana-mana'. And surprisingly, ada beberapa hal yang udah dari dulu saya lakukan tapi baru berasa 'manfaat lainnya' sekarang ini. Misalnya, meskipun udah ikut yoga dan zumba dari sejak lama dengan tujuan supaya sehat, saat itu justru bisa menjadi salah satu cara untuk mendistraksi pikiran saya. Selain itu saya yang biasanya enggak bisa terlalu lama bersosialisasi dengan orang lain terutama yang belum terlalu dekat, akhirnya enggak menolak untuk ketemu orang - orang baru dan mengobrol topik apapun. Karena bagi saya hampir setiap kali berkomunikasi dengan orang lain, membuat rasa pening di kepala saya serta perasaan mengganjal di hati saya perlahan - lahan menghilang dan berubah menjadi perasaan yang lega. Walaupun kadang semua ini hanya menjadi 'pelarian sesaat', tapi lumayan banget untuk menghilangkan perasaan cemas dan pikiran yang aneh - aneh dalam waktu sesaat.


5. Sharing with "The Survivors" 
Dalam keadaan depresi, sulit bagi saya untuk bisa menerima berbagai masukkan orang lain, terutama yang terkait dengan menyuruh saya untuk bersyukur dan mencoba untuk terus berpikiran positif. Karena saya tau diri saya yang selalu mencoba untuk positif, dan terutama dalam kasus saya ini, alasan utama saya depresi adalah saya menyalahgunakan kata - kata "positif" ini. Jadi ketika mereka menyuruh saya untuk bersyukur, melatih pikiran saya untuk positif, it just simply didn't work. Dan saya sadar bahwa salah satu cara yang paling ampuh adalah berbagi cerita dengan orang yang juga pernah mengalami depresi dan berhasil melewatinya. Dengan sharing masalah saya dan mendengar langsung masalah yang dihadapi orang lain, membuat saya merasa enggak sendirian dan justru kami sama - sama saling menyemangati satu sama lain untuk enggak menyerah dengan masalah yang kami hadapi. Bahkan saya yang biasanya lebih suka memahami orang lain dari membaca tulisan mereka, kali ini saya bisa bilang bahwa yang mampu membuat saya jauh lebih baik adalah ketika saya langsung bertemu dan mengobrol dengan orang lain, merasakannya dan melihatnya langsung. Saya beruntung karena salah seorang teman saya di Rotterdam saat itu bisa saya percayakan untuk cerita tentang depresi yang saya alami dan ternyata dia pun pernah mengalami hal yang sama.

6. Baca artikel tentang hal - hal serupa yang kamu alami 
Memang menceritakan hal sangat personal seperti ini memang bukan sesuatu yang mudah, makanya enggak mudah juga buat mendengar langsung cerita mengenai pengalaman depresi. Tapi beruntung banget saya hidup di jaman sekarang dimana internet bisa menjadi kunci dari segala permasalahan, termasuk depresi. Tinggal cari aja di Google "How to deal with depression" atau "mengatasi depresi", langsung banyak banget postingan yang bisa memberikan pengalaman orang - orang yang berhasil melewatinya. Salah satu postingan favorit saya adalah A Little Bit about Depression, From My Personal Experience 16 Things I've Learned From 16 Years of Dealing With Depression , dan Saya Pernah Ingin Bunuh Diri.



"The good news is, I didn't give up. I wanted to. Lots of times. But I didn't. And these days, life is brighter than ever" 

Hannah Sentenac

Saya tau apa yang saya katakan di postingan ini dan saran yang saya berikan belum tentu bisa dilakukan untuk setiap masalah dan setiap orang yang mengalami depresi, tapi saya harap apapun yang membuat kamu depresi, kamu bisa tetap mencari cara untuk terus berjuang melawannya. Karena segala masa - masa kelam itu pada akhirnya bisa tergantikan dengan hari - hari menyenangkan hanya ketika kamu terus berjalan dan berusaha untuk melewati masa - masa kelam tersebut :)

July 31, 2017

#ROH 71 : Morning (Sunlight & Air)

Sebagai orang yang biasanya baru beraktivitas siang hari, memiliki kesempatan untuk bisa menikmati udara pagi dan (apalagi) melihat matahari terbit di depan mata adalah suatu hal yang sangat berharga. Enggak berlebihan kan jika kemarin begitu diajak pergi ke Ranca Upas untuk melihat matahari terbit, dalam hati saya langsung jingkrak - jingkrak kesenengan. Sekalipun udara Bandung lebih sejuk dan bersih ketimbang Jakarta, tetap aja belakangan ini saya butuh menghirup udara segar. Bukan, bukan udara pagi yang sudah tercampur dengan asap polusi kendaraan bermotor, tetapi oksigen bersih yang rasanya ingin saya hirup sedalam - dalamnya hingga mereka bisa bertahan lama di dalam paru - paru saya sebelum tergantikan oleh polusi. Oksigen yang mampu menyegarkan kembali otak saya yang sudah sulit untuk diajak bekerja. Dan akhirnya setelah sekian lama mengharapkan bisa pergi ke tempat yang menawarkan udara pegunungan yang dingin dan segar, kemarin pagi saya bisa kembali merasakannya.






Sejujurnya saya enggak terlalu berekspektasi untuk melihat matahari terbit di Ranca Upas, karena memang dari awal yang lebih saya nantikan adalah udara dingin dan segar ala pegunungan. Eh, enggak taunya begitu sampai disana, begitu banyak hal menyenangkan yang saya temukan. Langit berwarna biru-keunguan disertai taburan bintang yang terlihat begitu jelas. Pemandangan matahari terbit beserta cahayanya yang berpadu dengan kumpulan kabut pagi di sebuah lapangan hijau. Warna - warni tenda kecil yang dengan latar belakang bukit - bukit hijau. Hanya saat itu saya baru bisa memahami keindahan tempat ini hingga jadi salah satu tempat favorit untuk camping dan foto prewed... karena memang bagus banget!

Pokoknya kuucapkan terima kasih sekali untuk Bocan & Ryan yang udah menyetir dari Bandung ke Ciwidey (dan sebaliknya), Nami yang memiliki ide cemerlang dan mengajak ke tempat ini, serta Indung yang sudah meminjamkan coat dan syal sehingga aku enggak kedinginan dan bisa foto kece disini :')