February 19, 2018

Memasuki Tahun Ketiga Tinggal di Belanda

Bulan Februari ini merupakan indikasi bahwa saya sudah memasuki tahun ketiga menjalani program PhD, yang artinya juga udah dua tahun saya tinggal di Belanda. Meskipun sebelumnya saya udah pernah tinggal selama empat belas bulan di Inggris, yang sebenarnya enggak jauh berbeda dari Belanda, terutama jika membahas cuaca labil yang dimiliki kedua negara tersebut, sebenernya ada banyak hal baru yang saya lakukan dan menjadi kebiasaan saya hanya ketika dan semenjak saya tinggal disini. Entah karena perbedaan budaya. Entah karena perbedaan kota, yang mana dulu saya tinggal di kota kecil dan sekarang saya tinggal di kota besar. Entah karena perbedaan usia yang juga mempengaruhi beberapa kebiasaan. Entah karena dulu saya first-timer alias baru pertama kali tinggal di negeri orang, sedangkan sekarang saya udah kurang lebih paham gimana menyiasati tinggal di negeri orang. Entah karena dulu saya mengambil program master dengan jadwal kelas yang lebih padat dibandingkan program doktoral yang fleksibel terkait manajemen waktu. Entah karena dulu waktu saya yang sangat singkat untuk tinggal di Inggris, sedangkan disini berasa udah jadi warga tetap saking masih lamaaanya tinggal disini (meski sekarang udah mulai berasa sedih sih mikirin akhir tahun depan kemungkinan besar udah selesai dan for good ke Indonesia). Yang jelas, semua perbedaan tersebut berpengaruh dalam bagaimana saya menjalani kehidupan saya di Belanda, yang berbeda dari ketika saya tinggal di Inggris dulu, dan tentunya juga berbeda dengan ketika saya menjalani kehidupan saya sebelumnya di Indonesia.


• DUTCH 101 

Jadi ada beberapa kebiasaan yang khusus saya lakukan semenjak saya tinggal di Belanda karena: 1. enggak ada pilihan lain selain mengikutinya kalo enggak mau menyengsarakan diri sendiri dan tetap bisa bertahan hidup disini; 2. karena tanpa sadar terbawa oleh lingkungan dan kebiasaan orang - orang disini; 3. karena memang pada dasarnya saya suka dan udah cocok aja dengan diri saya.

1. Ekspektasi: "ku mau bersepeda cantik dengan keranjang lucu". Realita: "yang penting bisa bersepeda dengan nyaman!" 
Dengan budaya bersepeda yang sangat terkenal dan fasilitas yang sangat memadai untuk bersepeda, pastilah selama tinggal di Belanda saya juga akan bersepeda. Dan salah satu yang bikin excited sebelum datang kesini adalah membayangkan akan segera membeli sepeda lucu dengan keranjang kayu di depannya. Yaa kaya yang biasa dilihat di film - film atau foto - foto di Pinterest dan Tumblr gitu lah. Namun begitu sampai disini, saya baru memahami bahwa semua itu hanyalah sekedar angan belaka. Pertama, saya lupa bahwa ukuran badan Dutch pada umumnya cukup berbeda dengan ukuran standar orang Indonesia. Jadi ukuran standar sepeda disini ya gede - gede gitu deh. Jangankan pake keranjang kayu, tanpa keranjang apapun di depannya aja saya sering enggak stabil sepedaannya dengan menggunakan sepeda ukuran Dutch. Kedua, yang namanya kayu itu kan cenderung berat yaa dan jadinya kalo pasang keranjang kayu di depan sepeda itu mudah banget bikin setirnya enggak stabil. Makanya orang - orang disini juga lebih banyak yang menaruh keranjang di belakang sepeda ketimbang di depan. Dan alasan yang terakhir adalah berhubungan dengan iklim di Belanda yang cenderung berangin. Singkat cerita, disini saya jadi belajar bahwa dalam hidup ini enggak selalu yang kelihatan unyu dan menarik itu yang akan bikin kita nyaman. Karena bagi saya, ternyata justru Fobi (folding bike) yang enggak pernah saya mimpikan sebelumnya justru yang paling pas dengan kebutuhan saya :))


2. "Go Dutch": Ibarat orang Jawa yang dipaksa jadi orang Sumatera 
Kayanya akan banyak orang Indonesia yang setuju bahwa tinggal di Belanda itu pasti mengajarkan dua hal, yaitu menjadi orang yang lebih straightforward dan orang yang 'fair' (terutama soal uang)! Bahkan sampai ada sebutan sendiri untuk karakter orang Dutch yang kedua ini, yaitu "Go Dutch", yang artinya adalah bayar masing - masing. No offense dan enggak bermaksud rasis atau ngatain yaa, tapi kayanya kedua karakter itu kurang lebih juga mirip dengan image orang Sumatera pada umumnya, enggak sih? Ha! Meskipun saya ada darah Padang, tapi sejujurnya saya ini berhati Jawa banget sampai melebihi temen saya yang Jawa tulen, alias enggak enakan banget. Jadinya begitu tinggal di Belanda dan menghadapi kondisi dimana budaya disini berkebalikan dengan saya, rasanya itu yaa mirip dengan orang Jawa yang tinggal di Sumatera. Awalnya cukup sulit sih karena saya jadi sering menemukan diri saya kesel sendiri kenapa enggak bisa straightforward dan mesti enggak enakan banget. Tapi lama kelamaan ya jadi semakin bisa menyesuaikan diri. Saya enggak tau sih sejauh mana saya berubah, cuma saya mulai menyadari sih bisa lebih tegas dan straightforward ke daily supervisor saya yang susahnya minta ampun buat dimintain waktu buat ngasih feedback. Atau semakin bisa menolak ajakan teman saya buat pergi di saat saya lagi enggak mood buat keluar, serta bisa menagih uang "patungan" ke teman - teman saya tanpa merasa jadi orang yang pelit. Haha! 

3. Ngecek weather forecast sebelum keluar rumah adalah wajib hukumnya! 
Berbeda dari Inggris yang "cuma" bermasalah dengan hujan, Belanda juga punya masalah dengan anginnya yang gengges banget! Percayalah, saya adalah salah satu orang yang paliiiiing males ngecek weather forecast pada awalnya. Bahkan baru download di hp itu setelah setahun saya tinggal disini. Maksudnya yang "proper" weather forecast yaa. Kalo cuma yang liat temperaturnya berapa sih udah otomatis ada di hp. Padahal sebenernya yang paling penting itu adalah melihat kemana angin berhembus dan seberapa kuat anginnya. Karena pada akhirnya udara dingin dan sekalipun hujan rintik - rintik itu enggak akan begitu gengges kalo enggak ada angin. Alias faktor utama yang sering bikin jadi males keluar rumah, enggak jadi sepedaan, dan ganti baju jadi enggak cakep - cakep amat (karena pada akhirnya berantakan juga nyampe kampus gegara terhempas angin ditengah jalan). Oh iya, ini mengaca pada pelajaran saya di setahun pertama yang berani keluar rumah tanpa tau kondisi angin seperti apa, saya sarankan jangan pernah mengikuti kesalahan saya. Karena sering banget saya menemukan diri saya menyesal kenapa enggak mengecek weather forecast terlebih dahulu *meski pada akhirnya tetap diulangi berkali - kali* :)) 


4. Kebiasaan Dutch yang patut diacungi jempol
Salah satu hal yang sering banget bikin kami, para non-Dutch, terkagum sekaligus terheran - heran dengan para Dutch adalah kecintaan mereka dengan sepeda dan lari. Kecintaan mereka itu sampai ke tahap dimana masih ada aja loh orang - orang yang bersepeda dikala hujan, angin kencang (waktu itu saya pernah liat lumayan banyak yang masih sepedaan di kala anginnya mencapai 40km/hour) hingga saljuan yang saat itu dinginnya udah enggak nyantai banget! Oh iya, kebiasaan lainnya yang juga bikin saya geleng - geleng kepala adalah orang - orang Dutch yang suka banget sama lari. Bahkan mereka tetep lari selama winter dengan hanya menggunakan satu layer pakaian dan enggak jarang juga saya liat yang hanya menggunakan kaos dan celana pendek. Duh, enggak paham lagi kulitnya terbuat dari apa itu ya :( Selain itu saya juga sering banget papasan ketika lagi sepedaan dari kampus ke rumah dengan sekelompok orang yang lari bareng. Dan itu waktunya sekitar jam tujuh malam hingga sembilan malam. Sungguh patut ditiru sekali mereka ya meski kayanya saya enggak bisa mengikuti jejak mereka. Pernah dong baru - baru ini saya coba lari pake sweater dikala ada matahari yang cukup silau sampe saya pake sunglasses dan saat itu temperatur sekitar enam derajat. Tapi setelah itu badan langsung berasa enggak enak kaya masuk angin. Haha! 

5. Tiada bulan tanpa beli bunga 
Kecintaan orang - orang Londo Belanda terhadap bunga memang enggak bisa diragukan lagi. Bahkan dari abad enam belas aja mereka udah mengimpor tulip yang sebenernya berasal dari Turki dan berhasil menanam serta membudidayakan tulip di negara mereka. Hingga akhirnya bukan hanya sekarang tulip dikenal sebagai simbol negara ini, tapi juga Belanda merupakan salah satu produsen dan supplier terbesar untuk penjualan bunga di dunia (dan ini enggak hanya sebatas tulip). Makanya enggak heran deh kalo salah satu kebiasaan orang Belanda adalah membeli bunga untuk dijadikan dekorasi di rumah mereka. Dan ini juga adalah salah satu kebiasaan mereka yang dengan mudahnya saya terapkan! Meskipun dari dulu sebenernya saya udah penggemar bunga dan tanaman, tapi sebelum kesini saya jaraaaang banget beli bunga buat diri sendiri. Apalagi cuma buat dijadiin pajangan doang. Kaya sayang aja enggak sih ngeluarin seenggaknya lima puluh ribu buat bunga? Mending buat makan aja deh! Haha. Bahkan pas tinggal di Inggris sekalipun, saya juga enggak pernah mengalokasikan pengeluaran rutin tiap bulan untuk beli bunga. Tapi semenjak tinggal disini, setiap kali melewati para penjual bunga di outdoor market yang dulu pasti rutin saya kunjungi tiap minggunya dan melihat banyak orang lalu lalang sambil membawa bunga - bunga cantik dengan berbalutkan kertas cokelat, saya pun jadi tergoda buat membelinya. Entah kenapa terlihat cool aja di mata saya, jadi lebih berasa banget gitu tinggal di luar negeri, HAHAH *monmaap saya memang norak aslinya*. Alhasil yang awalnya cuma sesekali akhirnya sekarang saya mengalokasikan pengeluaran khusus buat beli bunga setiap bulannya. Karena ternyata memang ada kebahagiaan tersendiri saat membeli satu bucket penuh dengan bunga cantik dan menaruhnya di dalam vas di kamar. Setiap melihatnya selalu seneng dan enggak bosan sampai beneran layu. Malah sempat ada waktunya dimana kamar saya tanpa bunga gitu dan seketika jadi terlihat ada yang kurang dan lebih suram. 


6. Belanda = Indonesia di Eropa = hidup jadi lebih mudah?
Well... enggak bikin hidup lebih mudah juga sih. Tapi kalo bikin mudah cari makanan Indonesia dan Asia, jawabannya IYA BANGET! Saya ngerasain banget perbedaan intensitas masak dan makan makanan Indonesia ketika di Inggris dan di Belanda. Tapi ini juga mungkin dipengaruhi karena dulu saya tinggal di kota kecil yang cuma ada dua Asian shop dengan produk Indonesia yang terbatas. Inget banget deh dulu Indomie tuh masih jadi makanan yang langka. Sekarang mah boro - boro Indomie, beberapa jenis dan produk makanan Indonesia lainnya seperti kerupuk, rempeyek, tahu, tempe, saus sate, sambal; bisa didapat di beberapa supermarket umum. Yaa cuma buat rasa yang edible dan terjamin, untuk produk tertentu khususnya sambal, kecap, dan saus - sausan, mending beli di Asian supermarket/store aja yang menjual brand yang udah pasti enak. Terlepas dari berbagai kemudahan dalam mendapatkan makanan Indonesia, teteplah ada satu makanan yang masih langka banget disini, yaitu martabak manis keju! Ini masih mesti nunggu balik ke Indonesia dulu atau nunggu keajaiban ada orang yang berbakat bikin martabak kaya abang - abang Martabak Favorit :(

7. Tiada hari tanpa mengonsumsi dairy products 
Kayanya satu alasan lagi kenapa saya susah langsing selama disini adalah karena terlepas dari konsumsi organic & healthy products yang meningkat, banyak juga jenis makanan yang mudah banget bikin berat saya susah turun namun mudah naik. Salah satunya adalah dairy products yang juga dikenal sebagai salah satu simbol dan produk ekspor terbesar selain bunga. Bagi saya yang paling menggoda iman dan susaaah banget dikurangin itu adalah yoghurt dan koffiemelk (susu khusus buat kopi), yang hampir tiap hari pasti saya konsumsi seenggaknya sekali. Sedangkan susu dan butter untungnya udah cukup lama saya ganti dengan plant-based products, yang untungnya semakin kesini semakin banyak variasinya dan enggak kalah enak dengan dairy products. Oh iya, kalo mood lagi senggol bacok juga biasanya nambah lagi dairy products lainnya yaitu es krim dan keju. Haha! Tapi beneran sih ini juga yang bakalan saya kangenin banget kalo udah enggak tinggal di Belanda lagi. Makanya enggak salah kan kalo saya puas - puasin konsumsi dairy products mumpung masih disini :p 


8. Udara kering dan usia yang bertambah tua jadi nambah koleksi skincare products
Salah satu kebiasaan lainnya yang susah banget saya ubah adalah merawat kulit. Enggak sedikit orang yang tertipu begitu melihat wajah saya yang sekilas terlihat putih dan mulus *ini monmaap bukannya mau narsis ya*, mereka mengira saya tipe orang yang rajin facial atau seenggaknya menerapkan 10 Korean Beauty Steps *kibas jilbab dululah*. Padahal ini hanya salah satu anugerah Tuhan semata yang diberikan kepada saya dan juga yang sangat saya syukuri. Haha! Tapi mungkin begitu kali ya, karena jadi terbiasa dengan pikiran "ya, selama enggak ada jerawat atau muka enggak kenapa - kenapa, enggak perlu dirawat macem - macemlah", jadi malah kebablasan gitu terus. Padahal kan udah tau udara di Belanda (dan Eropa pada umumnya) lebih kering daripada udara di Indonesia yang humid, jadi harusnya udah otomatis kan yaa nambah skincare products, seenggaknya pake moisturiser lah paling minimal. Tapi enggak tuh, bagi saya butuh (lagi - lagi) setahun untuk mulai nambah beberapa beauty & skincare products. Itu pun karena saya akhirnya kapok dengan kulit tangan saya yang mudah luka karena terlalu kering dan ujung bibir yang juga sering luka dan pecah - pecah. Semenjak itu akhirnya saya mulai perlahan - lahan ganti dan nambah skin care products serta semakin disiplin (alias rajin) merawat kulit, meskipun enggak sampai ngikutin standar beauty routine nya orang - orang Korea sih. Hehe! Seenggaknya yang paling penting bagi saya adalah tetep menjaga kelembaban kulit dan rambut di negara yang kering ini. Beberapa diantaranya yang sejauh ini cocok dengan kulit kering saya adalah:

- Body Shop yang juga jadi produk favorit saya sejak SMA, terutama untuk body lotion dan body wash. Tapi semenjak disini saya juga rutin menggunakan Vitamin E Day Lotion dengan SPF 30 sebelum beraktivitas. 
- Vaseline lip jelly ini baru saya gunakan semenjak di Belanda karena setelah menggunakan beberapa brand lain untuk lip therapy. Karena ternyata yang paling bisa melembabkan bibir saya dalam waktu lama adalah Vaseline ini.
Viva Face Tonic & Milk Cleanser yang udah selalu saya gunakan rutin sejak duduk di bangku SMP untuk membersihkan wajah saya setelah seharian beraktivitas.
L'Oreal yang juga udah saya gunakan sejak di Indonesia untuk shampo dan conditioner tapi semenjak disini saya juga gunakan Oil-In-Cream dan Hair Mask. Buat rambut saya yang kering banget, tipe Extraordinary Oil ini yang paling cocok.
- Clinique Moisture Surge Intense Skin Fortifying Hydrator ini juga baru saya gunakan semenjak disini setelah merasa bahwa kayanya bergantung hanya dengan day cream dari Body Shop agak kurang melembabkan kulit saya terutama jika udah mulai sore hari. Makanya ini biasanya saya pakai dua kali, yaitu ketika pagi hari dan malam hari. Jadi ini juga saya gunakan untuk night cream sekalian.
- Originals Evening Primrose Oil ini adalah produk terakhir yang saya gunakan sebelum tidur yang fungsinya supaya lebih melembabkan kulit serta sekaligus relaksasi karena khasiatnya yang memang juga sering dijadikan sebagai aromaterapi. 
- Selain itu juga saya lebih rajin buat maskeran seenggaknya seminggu sekali, tapi belum ada brand tertentu yang jadi favorit saya sih karena bagi saya efeknya sama aja. Tapi baru - baru ini saya lagi coba masker Freeman.



9. "Mendingan jalan - jalan ke kota Eropa lainnya daripada main ke kota lain disini"
Begitulah yang sering dilakukan oleh saya dan teman - teman pendatang lainnya. Ketimbang jalan - jalan mengeksplore kota lain di Belanda, mendingan sekalian jalan ke negara lain yang lebih menarik dan dari segi transportation cost juga terkadang bisa lebih murah ketimbang ke kota lain disini. Tapi bagi saya yang tetap menyenangkan dari jalan - jalan di Belanda adalah ketika mau sekalian berpetualang naik sepeda sambil mengunjungi kota yang punya sesuatu yang iconic dan cuma ditemukan di negara ini. Mulai dari sepedaan di sekitar Lisse sambil hunting ladang tulip yang sedang berbunga, ngeliat langsung kincir angin di Kinderdijk atau Zaanse Schans, mengunjungi Zaandam si kota kecil yang lebih mirip mainan ketimbang real city dengan berbagai bangunan super menggemaskan (salah satunya adalah Inntel Hotel yang ada di foto ini), hingga Giethoorn yang merupakan desa kecil yang khusus dibuat untuk tujuan pariwisata. 

February 11, 2018

#ROH 76: Muse

Meskipun saya belum nonton Dilan, saya bisa relate perasaan orang - orang yang posting betapa bahagia, berbunga - bunga, kesemsem, senyam - senyum sendiri setelah menontonnya. Terlebih lagi mereka yang sampai jadi fans dadakan Iqbal yang kayanya enggak kalah keren dari karakter yang dia mainkan di film tersebut. Karena saat ini saya pun sedang merasakan semua perasaan tersebut dengan seorang aktor yang awalnya bermula dari salah satu karakternya di sebuah drama. Padahal saya ini termasuk orang yang jaraaang banget punya idola yang bikin saya terus kepikiran tiap hari, hingga saya rela menghabiskan waktu saya berhari - hari buat bikin tulisan yang super panjang tentang seseorang yang udah pasti enggak akan baca tulisan saya ini. Seperti ada sisi lain dari diri saya yang ngeceng - cengin saya sambil ketawa cekikikan dan bilang "Makanyaaa, jangan suka ngebatin. Sekarang kena karmanya kan!". Yaa begitulah, seperti biasa, karma selalu datang untuk memberikan saya jawaban akan pertanyaan - pertanyaan tertentu yang sempat atau beberapa kali terbersit di pikiran saya karena saya gagal memahaminya. Tapi seenggaknya kali ini karma yang datang bukan bikin saya nangis tapi justru senyam - senyum sendiri tiap hari. Terima kasih semesta, karma kali ini berhasil membuat hidupku lebih berwarna :'))

Jadi ceritanya sebelum ini, setiap kali liat orang yang bisa segitunya ngefans sama idola mereka tuh saya enggak bisa memahami perasaan dan pemikiran mereka. Seperti di luar logika saya aja. Enggak usah jauh - jauh, contohnya ada di depan mata saya sendiri kok :)) Adik perempuan saya yang memang kayanya udah dilahirkan sebagai fangirl (saking dari dulu selalu adaaa aja orang yang dia idolakan) sampai pernah bikin saya kesel banget sama seorang penyanyi karena melihat kelakuan adik saya yang menurut saya berlebihan banget mengidolakannya. Bayangin aja dong, sewaktu masih tinggal bareng sama adik saya, hampir tiap hari selalu adaaa aja topik baru yang dia ceritakan tentang penyanyi tersebut ke saya. Kaya enggak pernah abis gitu bahan pembicaraannya kalo udah ngebahas idolanya. Belum lagi melihat effort dia yang segitu besarnya. Salah satu contoh "kecil" adalah adik saya yang suka banget jajan ini pernah dong bikin dia rela enggak jajan dan memangkas pengeluaran dia lainnya selama berbulan - bulan demi bisa datang ke hampir setiap acara yang ada idolanya. Disitulah kadang saya mempertanyakan kok bisa ya para fans seperti adik saya itu bisa sampe segitunya suka sama seseorang atau beberapa orang yang sebenernya enggak mereka kenal secara langsung. Maksudnya beneran SAMPE SEGITUNYA, yang bisa menyisihkan banyak waktu, tenaga, pikiran dan juga bahkan uang, demi bertemu dengan idola mereka; baik secara langsung maupun sebatas di dunia maya. Dan seperti yang bisa kalian liat sendiri, akhirnya sekarang saya sudah menemukan jawabannya. Lebih tepatnya merasakan langsung jawabannya. HA.

Image source: GQ Korea

Terakhir kali saya mengidolakan seseorang, yang sampai menghabiskan waktu hampir tiap hari buat cari informasi tentang idola saya dan untuk terus update kehidupan mereka, kayanya waktu saya SMA deh. Lebih tepatnya ketika saya masih segitunya ngefans sama Olsen Twins. Tapi begitu mereka perlahan - lahan mulai menghilang dari media dan sulit sekali untuk cari informasi tentang kehidupan terbaru mereka, saya pun mulai berhenti kepoin mereka. Semenjak itu hingga "baru - baru ini" saya belum pernah lagi kagum dengan seseorang yang saya lihat hanya dari layar laptop atau media sosial mereka hingga bikin saya rela menghabiskan banyak waktu saya hanya untuk ngepoin mereka. Meskipun saya punya beberapa idola, hanya sesekali aja ngepoin mereka dan enggak pernah sampai yang bikin saya jadi terus menerus kepikiran gitu. Bahkan biasanya kalo saya segitunya kepincut sama aktor dan/atau aktris dari sebuah film atau drama, paling cuma bertahan hingga enggak lebih dari dua minggu. Dan setelah sekian lama hingga saya lupa bahwa ternyata masih ada loh sisi saya yang seperti ini, baru pertama kalinya saya kembali geleng - geleng kepala sendiri karena waktu saya habis terbuang dan mudah banget terdistraksi karena seseorang yang belum lama saya kenal dan itu pun cuma liat dari layar laptop! DUH.

Dari yang awalnya cuma kepoin akun Instagram dia sampe ke postingan pertamanya, masih wajarlah. Terus kepoin di Youtube semua BTS drama terbaru dia yang baru saya tonton dan abis itu cari video - video lainnya tentang dia. Hmm, masih oke jugalah. Coba nonton beberapa film dia yang lain dan juga salah satu episode Running Man yang ada dia-nya. Yaa masih dimaklumi lah. Tapi sampe ngelike Facebook Page, log-in ke Twitter yang sampe mesti reset password karena udah saking lamanya enggak buka demi kepoin doi yang memang masih aktif ngetweet (padahal kebanyakan tweetnya juga enggak paham karena dalam Korean), hingga yang udah di luar akal adalah sampai join di international fanbase dia. Wedew, kayanya sekarang "level fangirling" saya udah sama level dengan adik saya nih. Haha! Enggak cuma itu, sampai sekarang saya juga menghabiskan cukup banyak waktu saya buat baca kehidupan dia sebelum saya mengenalnya *asek* dari website si international fanbase tersebut. Lalu sekarang saya menulis panjang lebar di blog saya hanya untuk menuangkan kekaguman saya terhadap seorang aktor Korea yang bernama Uhm Hong-Sick atau lebih dikenal dengan Yoo Ah-In, who I've been fangirling over for almost a month now! Oke, baru tiga minggu sih. Jadi mungkin masih wajar kalo saya masih head over heels for him. Kita lihatlah yaa sampai kapan ini berlanjut. Apakah hanya kekaguman sesaat atau memang jadi idola baru saya yang bisa menggantikan Olsen Twins? Bisa jadi yang kedua sih... secara gitu yaa sekarang saya udah berangan - angan buat ke Seoul supaya bisa ke Studio Concrete dan nongkrong disana. Karena denger - denger disanalah kesempatan terbesar buat bisa ketemu langsung dengan yang punya art gallery tersebut :))

A Memorable Character

Image source: yooahinsikseekland.wordpress.com

Pertama kali saya tau Yoo Ah-In adalah saat nonton Chicago Typewriter, yang saya tonton sekitar tiga minggu lalu. Disitu dia memainkan dua karakter yang bertolak belakang banget. Karakter dia yang pertama, Han Se Joo, sebenernya karakter yang sempet bikin saya ilfil dan bisa dipastikan kalo dia cuma memainkan satu karakter itu, saya enggak akan suka sama dia. Bukan cuma karena disitu dia annoying, tapi juga secara fisik bagi saya biasa aja. Malah bukan tipe cowok yang bisa bikin saya kesemsem karena model rambutnya yang cepak dan outfitnya yang sering banget bikin dia keliatan jadi fashion victim. Cuma diantara itu semua yang paling bikin saya pengen geplak dia berkali - kali sih sebenernya mimik dan pembawaan dia yang songong bin annoying.

TAPI, di karakter dia yang kedua, Seo Hwi Young, itulah yang bikin saya klepek - klepek dan salah satu alasan kenapa saya semangat nonton Chicago Typewriter sampai akhir. Bahkan sampai sekarang, masih sering aja pas lagi capek kerja atau enggak mood ngapa - ngapain, satu hal yang pasti bikin hepi adalah ngulang scene yang ada si Seo Hwi Young itu berkali - kali. Mulai dari penampilannya yang mencapai tahap kesempurnaan paling haqiqi, mulai dari potongan rambut, kacamata, outfit ala 'Great Gatsby'. Perlu dikasih awards nih buat semua pihak yang bisa transform Ah-In jadi Seo Hwi Young. Tapi yang paling bikin saya sampe ke tahap "bang, ade udah siap nikah kok" adalah pembawaan si karakter tersebut yang bukan hanya cerdas, thoughtful, misterius, kalem, karismatik, idealis tapi juga sesekali usil-belagu-ngeselin gemes gitu. Dan hal lain yang paling bikin karakter ini ngena di hati saya adalah the way he showed his love ke orang - orang yang dia sayang, baik sahabatnya maupun wanita yang dia sayang. Saya masih sulit menuangkannya ke kata - kata, tapi yang jelas jarang banget saya temukan di kebanyakan film, apalagi drama Korea. Kayanya ini pertama kalinya saya segitu sukanya sama seorang karakter sampai berkali - kali ngulang video, ngeliatin gif, sampai ngesave di laptop saya. Duh, lama - lama hayati bisa kena serangan jantung deh nih bang Seo :"))

Image source: yooahinsikseekland.wordpress.com

Dan selama saya menonton 16 episode Chicago Typewriter, hanya dalam beberapa scene saya bisa menyadari bahwa kedua karakter tersebut diperankan oleh orang yang sama. Padahal di film itu sendiri, sebenarnya mereka itu dimainkan satu orang yang sama walaupun memang sebenarnya di film itu si karakter pertama semacam reinkarnasinya si karakter kedua. Tapi nyatanya, saya baru bisa menemukan kemiripan antara karakter pertama dan kedua hanya setelah beberapa kali mengulang scene tertentu. Banyak yang berpendapat bahwa perbedaan itu terutama disebabkan karena style kedua karakter tersebut yang dibuat sangat berbeda. Saya setuju, cuma bagi saya yang paling membuat saya merasa bahwa kedua karakter tersebut berbeda adalah mimik dan tatapan mata Ah-In yang berbeda ketika memainkan Han Se Joo yang super ngeselin dan ekspresif dengan Seo Hwi Young yang kalem dan misterius. Jadi bukan hanya sekedar outfit, hairstyle, gesture, dan pembawaan secara general; tapi justru yang paling susah adalah bagaimana enggak mengeluarkan mimik dan tatapan mata yang sama ketika memainkan masing - masing karakter. Disitu saya mulai mikir, "Wuih, boleh juga nih orang bisa megang dua karakter tapi bagi saya sesusah itu buat menganggap bahwa dua karakter tersebut dimainkan satu orang yang sama". Ternyata oh ternyata, setelah kepoin Ah-In lebih jauh, barulah saya memahami bahwa bukan saya doang yang memiliki pemikiran yang sama. Karena ternyata si abang satu ini memang udah dikenal sebagai one of the Korea's best actors.

An Open Minded Artist

Image source: yooahinsikseekland.wordpress.com

Jadi saya punya kebiasaan kalo udah suka sama karakter di film yang saya tonton dan segitu sukanya, saya pasti langsung kepo kehidupan aktor aslinya dari media sosial mereka. Karena sama kaya kebanyakan orang pada umumnya, media sosial meskipun enggak selalu bisa jadi tolak ukur seseorang, tapi seenggaknya ada sesuatu hal baru yang bisa kita ketahui dari seseorang dari media sosialnya. Nah tapi kebanyakan, terutama aktor Korea, lumayan sering bikin saya ilfil setelah kepoin Instagram mereka. Bukannya apa - apa, saya memang pribadi punya pendapat tersendiri soal orang yang suka selfie maupun posting terlalu banyak foto diri mereka, baik perempuan maupun laki - laki. Dan kayanya salah satu hal yang justru disukain dan cukup menjadi tuntutan para seleb Korea dari para fans mereka adalah memajang selfie atau foto diri mereka. Di luar ekspektasi saya yang udah sempat menduga dia juga tipikal artis Korea pada umumnya, ternyata begitu liat akunnya, saya langsung tau bahwa he is the extraordinary one. Ketimbang menemukan banyak foto diri dia, justru yang saya liat adalah foto - foto yang bikin bingung sekaligus nampak penuh arti dengan caption yang kadang juga semakin bikin bingung (entah karena dalam Korean atau memang terlalu sulit untuk dimengerti makna dibalik caption tersebut). Cuma berhubung ku ini keseringan tertarik dengan orang - orang yang sulit ditebak, maka ketimbang ilfil, ku justru semakin penasaran dengan sosok asli Yoo Ah-In 

Image source: Yoo Ah-In's Instagram

Dan ternyata enggak heran sih dia mengingatkan saya sedikit dengan teman - teman saya dari jurusan seni rupa dan desain, karena dia ternyata sangat into art sampai bikin sebuah art gallery bernama Studio Concrete. Lewat art gallery ini, Ah-In dan beberapa temannya bukan cuma mendukung budding artists dengan menyediakan creative space, tapi juga mereka mendesain produk mereka sendiri salah satunya yang paling terkenal adalah 1TO10 Series T-Shirt. Selain film dan art, ternyata Ah-In juga punya unique taste in music dilihat dari referensi lagu dan penyanyi yang dia posting di Instagram dan yang dikumpulkan oleh para fans-nya dari berbagai referensi. Mulai dari David Bowie sampai penyanyi Korean dan French yang enggak saya kenal; dengan berbagai genre dari jazz hingga electro. Dan ternyata setelah menyelidiki lebih lanjut, dia juga sosok yang menghargai tulisan sebagai sebuah karya yang sama pentingnya dengan film dan seni. Ini bisa dilihat dari beberapa tulisan yang dia quote dari penulis favorit dia yang juga diposting di akun Instagramnya. Intinya, apa yang dia posting di Instagram membuat saya semakin penasaran dengan sosok Yoo Ah-In karena bagi saya keliatan jelaslah dia bukan tipe aktor yang mengikuti tuntutan dunia selebriti. 

An Extraordinary Actor

Image source: Sikseekers

Kebiasaan saya yang kedua adalah coba menonton film lain yang dia perankan. Apalagi begitu tau kalo dia udah banyak memenangkan awards sebagai best actor, ya semakin tertariklah saya untuk melihat akting dia. Meski sebenernya saya udah ngeliat bakat dia ini di Chicago Typewriter, sekalianlah pengen liat muka Ah-In sebelum Han Se Joo dan Seo Hwi Young tuh kaya apa sih. Daaaan, sejauh ini saya udah nonton tiga film dia: Punch, Veteran dan Likes for Likes; saya bisa bilang enggak ada satu pun karakter yang saya bisa relate satu sama lain. Tapi yang paling bikin saya kagum selain akting dia sebagai Seo Hwi Young, adalah peran dia di Veteran. Wah, ini saya sampe enggak sanggup lanjutin filmnya loh setelah 30 menit nonton hanya karena aktingnya yang memang bisa bikin sampe saya lupa dengan karakter dia lainnya karena melihat Jo Tae-Oh yang segitu jahatnya dan seribu kali jauh lebih ngeselin dari Han Se Joo. Nah dengan penampilannya yang juga mirip dengan beberapa penampilan Ah-In aslinya (potongan rambutnya Jo Tae-Oh sempat dipake juga sama Ah-In ketika datang ke beberapa event), saya jadi semakin melihat mereka satu orang yang sama di film tersebut. Dan rasanya sedih aja ngeliat orang yang awalnya saya suka banget dan kagumi tiba - tiba jadi berbalik jahat dan bisa saya benci. Disini sekaligus jadi titik dimana saya kekaguman saya dengan Yoo Ah-In udah lepas dari bayang - bayang Seo Hwi Young karena saya suka dengan Yoo Ah-In sebagai diri dia dan bukan karakternya. Lalu dua kalimat terakhir ini kenapa jadi kaya ngungkapin perasaaan ke gebetan ya ketimbang ke idola :)) . OH IYA, satu hal lain yang juga bikin saya wow adalah begitu tau dia jadi main character di sebuah  upcoming movie "Burning", yang diangkat dari Haruki Murakami's short story yang berjudul "Barn Burning"! Duh, pokoknya semakin saya tau banyak hal tentang Ah-In, semakin bikin saya senang karena tampaknya kali ini saya bisa mengidolakan seseorang yang hidup di dunia nyata ketimbang hanya karakter fiksi.

A Thoughtful Person

Image source: GQ Korea

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya informasi yang saya dapatkan tentang Ah-In, semakin saya kagum karena sisi lain dari dia. Jadi ibaratnya yang tadinya kepincut hanya dari karakter di sebuah drama, lalu mengaguminya sebagai seorang public figure dengan segala talenta kehipsteran dan kehebatannya, sekarang saya kagum karena melihat dia sebagai seorang manusia biasa yang enggak sempurna. Salah satunya adalah kontroversi Ah-In dengan Megalia, sebuah radical feminist community di Korea, hanya karena sebuah tweets enggak penting dari ghost account. Begitu baca kontroversi ini menyadarkan saya bahwa orang - orang judgemental yang suka membesarkan hal kecil jadi masalah yang besar itu ternyata enggak hanya happening di Indonesia aja ya. Ha! Anyway, setelah itu banyak yang menyayangkan reaksi Ah-In yang menanggapi komen para haters dia. Awalnya saya juga begitu, merasa kaya kok si abang ternyata mudah senggol bacok gitu orangnya ya. Tapi akhirnya saya paham bahwa sebenernya dia melakukan itu bukan karena terpancing emosi semata, tapi karena dia seseorang yang tau kapan saatnya dia harus fight back untuk meluruskan hal - hal tertentu, terutama yang menyangkut perspektif banyak orang. Dalam kasus ini keliatan jelas dua hal, even bagi saya yang enggak gitu paham - paham amat soal feminism, bahwa orang - orang tersebut memanfaatkan feminism sebagai topik untuk menyerang Ah-In atau orang - orang tersebut memang udah menyalahartikan definisi dan konsep feminism. Disini Ah-In mengeluarkan pemikiran dan argumen dia tentang arti sebuah feminism dengan straightforward tapi cerdas dan bukan cuma asal ngomong. Dan ini membuat saya kagum banget karena enggak banyak orang terutama public figure yang mau mengambil resiko seperti itu, yang mau memperjuangkan hal - hal tertentu sekalipun dia harus menunjukkan sisi lain dia yang bikin enggak sedikit orang jadi bisa berbalik membenci dia.

Di titik itulah yang bikin saya melihat sisi lain dirinya sebagai seorang manusia yang punya komitmen tinggi untuk tetap jadi diri dia sendiri dan enggak takut buat menunjukkan bahwa there's something interesting about his personality. Padahal bagi saya sekalipun yang cuma orang biasa, dan saya yakin banyak orang juga yang seperti ini, rasanya masih susah banget buat menunjukkan sisi lain yang enggak mau saya tunjukkan karena takut enggak bisa diterima oleh orang lain. Selain itu dia juga enggak takut untuk memperlihatkan sisi vulnerable dia dengan berbagai tulisan yang dia share di media sosial dan wawancara dengan berbagai media salah satunya yang paling saya suka adalah wawancara-nya dengan GQ Korea. Biasanya di tengah - tengah saya mengidolakan seseorang, yang paling lama jadi idola saya adalah pasti orang - orang yang thoughtful. And from what he has shown to the public, Ah-In is absolutely one of them. Wuih, ini berasa saya udah kenal dia puluhan tahun aja ya padahal belum juga sebulan :))

Image source: GQ Korea

Semenjak membaca tentang opininya terkait kontroversi dengan Megalia dan berbagai kritik dari beberapa pihak yang ditujukan buat dirinya setelah itu, saya jadi banyak membaca tulisan Yoo Ah-In, baik pemikiran luas dia yang berhubungan dengan isu - isu sosial terutama feminism, human rights dan media maupun tulisannya tentang his philosophy and perspective on life. Salah satu tulisan favorit yang bikin saya semakin kagum dengan Ah-In dan juga bukti betapa thoughtful-nya dia, adalah tulisan yang dia buat di Facebook-nya, yang berjudul "The Cries of My Generation". Dan ini beberapa part yang paling mengena di saya:
My uncomfortable cry is a resistance against this inconvenient world/society and my weakness. I am not against this world, but against myself kneeling down [against my submission] to this world. Everyone puts on the same mask like a safety helmet and thinks in the same way, with the same facial expression, in the same clothes, speaks in the same manner, and behaves like others, pursuing the same boring world. I wish to stir such the same boring society. I have a confidence that while I’m subjected to all the blames [while I’m accepting/bearing all the blames], I believe that such alternative existence or action with sincerity could change the world.  
I do not wish for comfort, recognition and understanding. I’m willing to strike through the border of the mysterious/uncharted world of untouchable landmines, endure the painful risk of stumbling from the persistent pursuit of the strangers [witch-hunters] rather than feeling secured living happily in slavery. 
The bratty kid who defends himself with his noisy voice is dead. I’m no longer opposed to the general public as the object of the struggle, instead I want to join hand with substantial people in the same spirit [comrades] and wish to go together to find a new world. I will express myself through my performance/acting skills, through my essays/writings, through the “celebrity disease” that I’ve developed as an entertainer at my age, the tax that I should pay, the little bit of popularity that I carry, and through my pitiful desire to become the center of attention. And in all the way I can I will console/comfort, communicate and unite with the outside world. So, I’m shouting to the world. 
Please, don’t ask “how dare you?/what are you?”, but rather “how are you/how do you do?”. We are living in this era of absurdity that left us “dumbfounded”. Rather than putting up the sticky make-up creepy photoshopped selfie of a hard-edged stubborn man, I prefer myself having a flexible and innocent heart of an eight grade student. I believe the social media (SNS) works to correspond my opinion better than keeping the easy but inconvenient silence, appearing superficially and attacking people. So, which one is a waste of life? 
And this is the main reason why I have a strong feeling that this big admiration towards him is more than just a momentary fangirling thingy. Because thoughtful people are always my favourite kind of people... but those, who are also able to convey their beautiful thoughts into beautiful pieces of writing, they undoubtedly become my muse. At this point, I can clearly see that Yoo Ah-In belongs to the latter one. 



"It’s okay if all my dreams don’t come true by the time I’m twenty-five; thirty-five is fine, and forty-five is, too. And I thought it was much better to protect myself and proceed slowly than to lose myself in the effort to shorten that time."

Yoo Ah-In

February 09, 2018

#ROH 75: Spotify

Dalam beberapa hal, saya termasuk orang yang terlihat lebih berani untuk keluar dari comfort zone. Tapi sebenernya untuk beberapa hal, saya termasuk yang susaaaah banget buat keluar dari kenyamanan saya sendiri. Apalagi kalo udah terkait teknologi, saya sangat old-school sekali loh. Salah satu buktinya adalah kenyataan bahwa saya baru subscribe Spotify tiga bulan yang lalu. Sebenarnya sih pertama kali saya pake Spotify itu udah dari enam tahun yang lalu, ketika di Inggris. Entah kenapa begitu balik ke Indonesia malah enggak pake lagi. Kayanya waktu itu belum bisa diakses di Indonesia deh. Anyway, apapun alasannya, yang jelas setelah itu saya enggak menyentuh Spotify lagi hingga tahun lalu ketika saya mulai jenuh dengan iTunes, 8tracks dan Youtube. Tapi saat itu masih males langganan karena merasa enggak perlu - perlu amat dan masih nyaman dengan iTunes. Terus akhirnya semakin terdorong untuk berlangganan ketika keluarga, pacar, maupun beberapa teman di sekeliling saya pada mulai banyak yang subscribe Spotify. Hingga November kemarin ketika lagi road trip bareng abang saya yang juga udah langganan sejak lama, saya baru merasakan sendiri manfaatnya, yaitu bisa download semua lagu yang kita mau. Dan ini menurut saya penting banget ketika lagi traveling karena bisa denger lagu kapan pun dan dimana pun tanpa terganggu akses internet. Makanya sebelum saya solo trip bulan Desember lalu, saya akhirnya memutuskan buat berlangganan karena tau bahwa ada saatnya selama perjalanan dimana saya bosan dengan lagu - lagu di iPod saya. Baru deh sadar ketika udah subscribe kalo ternyata mendengarkan lagu tanpa terhalang iklan itu rasanya lega dan menyenangkan banget. Ini kok keliatan jadi kaya postingan berbayar yaa. Haha! Tapi sebenernya saya menulis postingan ini enggak dapat apapun dari Spotify, loh. Beneran karena kepuasan saya pribadi aja menggunakan dan berlangganan aplikasi ini. Selain itu, sebenernya ada beberapa hal lain yang udah saya suka dari dulu bahkan sebelum berlangganan, yaitu Discover Weekly dan beberapa playlist Spotify yang menjadi favorit saya.

Discover Weekly
Satu hal yang membuat saya suka dengan Spotify adalah playlist yang dibuat khusus untuk saya berdasarkan lagu - lagu yang sering saya dengar. Entah algoritma apa yang dipakai hingga tiap minggu bisa ngasih Discover Weekly dengan berbagai artis baru dan lagu baru, tapi hampir selalu cocok dengan selera musik saya. Meski kadang ada juga sih yang "heuh, gw dengerin apa ya kok bisa sampai yang keluar lagu beginian". Haha! Tapi so far, saya puas dengan Discover Weekly yang diberikan dan tentunya jadi salah satu hal yang saya tunggu setiap minggunya.



Have a Great Day!
Hampir setiap hari sebelum keluar rumah, saya pasti selalu siap sedia pasang earphone dulu. Nah udah beberapa minggu ini salah satu playlist yang menemani perjalanan saya dari rumah sampai ke kampus adalah playlist ini. Bagi saya, lagu ini tepat banget buat memulai hari saya. Dari lagu pertama aja udah bikin ketagihan buat terus dengerin playlist ini. Rasanya tuh seketika langsung semangat dan jadi berasa kaya Joseph Gordon-Levitt di 500 Days of Summer yang lagi nari - nari sambil nyanyi "Well, well, well you *ooh ooh ooh*, you make my dreams come trueeee". Beneran pas banget deh sama dekripsi playlistnya, "feel great with these timelessly fun songs!".



Intense Studying 
Setelah sampai kampus dan udah duduk rapi, biasanya saya langsung ganti ke playlist dengan lagu instrumental, entah itu klasikal, bossa nova, akustik, atau jazz. Secara gitu ya saya orangnya cukup mudah terganggu dengan suara - suara lain, sekecil bunyi ketikan keyboard dari teman saya yang satu ruangan dengan saya bisa membuat saya enggak fokus. Pun saya kerja di kamar saya atau di tempat lain yang sepiiii banget, enggak jarang saya juga tetap mendengarkan lagu instrumental karena biasanya saya butuh stimulus untuk bisa fokus, terutama di awal mulai kerja. Apalagi kalo kerjaannya itu membutuhkan fokus yang cukup tinggi seperti membaca jurnal atau menulis argumen baru dari hasil analisis, literature dan pemikiran sendiri. Nah, diantara berbagai instrumental playlist yang selalu berhasil membuat saya bener - bener fokus kerja adalah Intense Studying ini. Biasanya lagu pertama belum selesai aja, saya udah berasa masuk ke dalam dunia saya sendiri dan lupa dengan sekitar saya.



Get Home Happy
Sebenarnya playlist ini baru saya temukan tiga hari yang lalu karena saya lagi bosen dengan semua playlist di library saya. Biasanya kalo udah gitu, saya cari playlist baru di bagian "Browse". Dan salah satu playlist yang muncul adalah ini. Meskipun ada beberapa lagu yang saya skip karena kurang cucok sama telinga saya, tapi playlist ini berhasil bikin mood saya kembali membaik saat saya mulai kehilangan semangat dan fokus kerja di sore hari. Atau justru jadi teman di saat kembali pulang ke rumah dengan mood yang masih baik meskipun sebenernya otak dan badan udah lelah.


Indie Roadtrip
Begitu menemukan playlist ini dan melihat isinya, saya langsung mikir seandainya saya udah subscribe Spotify sebelum saya road trip bareng Bang Ardha, pasti ini udah saya download dan jadi salah satu playlist yang menemani perjalanan kami. Karena hampir semua lagu di playlist ini saya suka dan bisa dipastikan 90% bahwa abang saya pun juga suka dengan playlist ini. Soalnya selama road trip kemarin, ada saatnya dimana playlist saya ternyata kurang cocok dengan abang saya; dan begitu juga sebaliknya, kadang ada playlist dia yang kurang cocok dengan saya. Anyway, meskipun lagi enggak road trip, nyatanya playlist ini tetep sering saya mainkan ketika saya lagi butuh extra beats buat menginspirasi saya melakukan apa yang sedang saya lakukan. Seperti misalnya ketika saya menulis postingan ini, saya lagi mendengarkan Midnight City yang bikin saya goyang - goyang kepala sendiri sambil mencoba mengeluarkan isi kepala saya berupa tulisan #yhaaa. 

February 05, 2018

Lund & Malmo

Ternyata baru sekarang terasa capeknya setelah kombinasi dari kurang tidur dua malam berturut - turut. Hari ini saya bangun agak lebih siang dari biasanya dengan mata yang masih berat dan juga rasanya mageeeer banget buat bergegas. Padahal agenda hari ini adalah lanjut mengeksplore sisi Kopenhagen yang belum sempat dikunjungi kemarin. Biasanya kalo udah urusan jalan - jalan, saya paling semangat buat berangkat pagi supaya lebih banyak tempat yang bisa dikunjungi. Cuaca di luar pun tampak bersahabat dengan cahaya matahari yang memantul di kaca jendela ruang tengah flat Mas Marlo dan Mbak Lelly. Tapi nyatanya jam sepuluh saya masih aja menikmati semangkuk granola dengan susu untuk sarapan pagi ini sambil melanjutkan obrolan bersama ketiga tuan rumah yang juga sedang asik melahap sarapan mereka. Padahal semalam udah cukup lama kami mengobrol, tapi yang namanya teman dan udah lama enggak ketemu (baca: setahun) tuh kayanya selalu ada aja bahan pembicaraan ya!


Tapi saya sih enggak keberatan dengan percakapan tersebut. Justru bagi saya selalu menyenangkan rasanya mendengar cerita dari teman yang memiliki pengalaman tinggal di negara yang berbeda, apalagi di Skandinavia, negara yang terkenal dengan kualitas hidup lebih baik dari banyak negara lainnya, tak terkecuali Belanda. Pembicaraan pun mengalir dari berbagai benefit yang didapatkan dari pajak yang tinggi juga, hingga keheranan kami akan betapa naif-nya sistem di Swedia yang bisa - bisanya menaruh data konfidensial warganya di internet seperti nama lengkap setiap anggota keluarga beserta alamat rumahnya. Bahkan ada juga yang sampai terpampang foto depan rumahnya! Kayanya darisitu akhirnya kami sampai ke topik tentang digital influencer yang sedang dipelajari oleh Mas Marlo sebagai mahasiswa di bidang komunikasi. Dan pembicaraan terus berlanjut hingga dimana kami memutuskan untuk mengganti rencana kami hari ini, yaitu mengeksplore Lund dan Malmo ketimbang ke Kopenhagen. Hal ini diputuskan karena ke-mager-an kami yang akhirnya baru keluar rumah sekitar jam dua siang :)) Berhubung enggak begitu banyak yang bisa dieksplore di Lund dan Malmo, jadi waktu yang enggak banyak tersisa di hari itu lebih baik digunakan di kedua kota tersebut ketimbang di Kopenhagen.

Begitu sampai di Lund, tempat yang pertama kali kami datangi tentu aja Lund University, yang enggak lain adalah universitas dimana Mas Marlo kuliah saat ini. Berjalan mengelilingi komplek kampus maupun pusat kota-nya, mengingatkan saya dengan dua kota pelajar lainnya: Harvard dan Oxford. Bentuk jalannya, susunan toko - toko kecilnya, hingga beberapa gaya arsitektur bangunan disana; entah mengapa langsung mengingatkan saya dengan kedua universitas tersebut. Sayang, enggak begitu banyak tempat yang dikunjungi di Lund karena kami masih harus ke Malmo sebelum terlalu malam dan dingin. Padahal sekilas, meskipun kecil, Lund terlihat cantik dan menarik. Oh iya, sebelum kami lanjutkan perjalanan ke Malmo, kami sempat mampir ke Lunds Market Hall. Sebuah pasar modern yang isinya berbagai macam stall makanan dan kurang lebih mirip dengan Torvehallerne yang di Kopenhagen. Sambil berjalan mengelilingi tempat tersebut, tiba - tiba Mbak Lelly menunjuk ke sebuah toko roti yang menjual 'Saffranskringlor'. Jadi sebelumnya, ketika kami sempat ngobrolin soal makanan khas di Swedia, salah satu yang terlontar adalah saffron rolls ini. Tapi begitu menjelaskan rasanya, baik Mas Marlo maupun Mbak Lelly, enggak ada yang bisa mendeskripsikan rasanya yang unik. Makanya saya pun jadi penasaran untuk mencoba, apalagi roti ini hanya dibuat ketika Natal. Dan begitu mencobanya... saya pun setuju bahwa ada suatu flavour utama yang enggak bisa dideskripsikan. Yang jelas, saya suka apalagi dengan teksturnya yang lembut banget. Duh, bikin nagih!









Setelah itu perjalanan kami dilanjutkan ke Malmo, kota terbesar ketiga di Swedia setelah Stockholm dan Gothenburg. Disini tempat pertama yang dikunjungi adalah Form Design Center, sebuah tempat yang terdiri dari toko dan creative spaces yang menggelar temporary exhibition terkait Swedish designed products. Kayanya udah pasti saya enggak akan kesini kalo enggak bareng sama Mas Marlo dan Mbak Lelly, karena tempatnya dari luar sangat mudah sekali terlewati. Dan meskipun tempatnya kecil, cukup membuat saya senang begitu melihat berbagai desain minimalis ala Swedish. Kemudian dari situ, kami melanjutkan perjalanan ke pusat kota, lebih tepatnya ke tempat dimana ada christmas market. Tapi begitu sampai disana, saya harus menelan kekecewaan karena ternyata biasa banget christmas market-nya. Bagi yang udah pernah melihat langsung christmas market di Jerman dan Austria (terutama di Salzburg), rasanya jadi biasa aja gitu melihat christmas market di negara lain :)) *entah kenapa ini kok jadi terdengar sombong ya* *percayalah ku enggak bermaksud padahal loh*.

Anyway, dari berbagai hal yang bisa menjadi kenangan dari Malmo, enggak kusangka ternyata justru yang paling berkesan adalah tempat singgah terakhir kami sebelum kembali ke Helsingborg, yang enggak lain adalah... Rice & Soup! Sebuah Asian buffet restaurant yang hanya dengan membayar sekitar 9 Euro udah bisa makan sepuasnya. Duh, harganya bikin sakit hati kalo dibandingkan dengan rata - rata buffet di Rotterdam yang minimal mesti mengeluarkan sekitar 13 - 20 Euro. Yaa memang sih, menu makanan di Rice & Soup ini enggak sebanyak yang biasanya disajikan di Rotterdam. Tapi tetep aja buat mahasiswa kere kaya saya ini, makan volcano sushi sepuasnya dan diakhiri dessert ketan-susu-kelapa yang bikin nambah sampai dua kali itu sebenarnya udah lebih dari cukup ketimbang menu berlimpah yang pastinya enggak akan habis bahkan sampai ronde kelima. Tapi yaa sudahlah yaa, yang penting malam ini ku kembali dengan hati senang dan perut kenyang :))